PUIP MAGETAN SERUKAN REVOLUSI KESADARAN UNTUK KEMERDEKAAN PALESTINA
MAGETAN — Suasana sore di Magetan berubah haru ketika Persaudaraan Umat Islam Peduli Palestina (PUIP) Magetan menyampaikan seruan moral untuk menghentikan normalisasi hubungan dengan Israel dan menyerukan persatuan global demi kemerdekaan Palestina. Seusai forum silaturahim bersama para tokoh agama, akademisi, dan aktivis kemanusiaan, Koordinator PUIP Magetan, Gus Imam, berbincang dengan wartawan dan menyampaikan pandangan yang mengguncang hati tentang luka kemanusiaan di tanah suci para nabi itu (07/10/2025).
“Normalisasi hubungan dengan Israel adalah bentuk pengkhianatan terhadap hati nurani dan kemanusiaan,” ujarnya membuka percakapan dengan nada dalam dan bergetar. Ia menegaskan bahwa normalisasi bukanlah langkah diplomatik, melainkan legitimasi terhadap penjajahan yang masih berlangsung. “Kita tidak bisa menormalisasi kejahatan. Colonialism can never be normalized. Begitu kita membenarkan penjajahan, kita sesungguhnya sedang mematikan rasa keadilan di dalam diri kita sendiri,” tambahnya.
Gus Imam mengingatkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang lahir dari penderitaan penjajahan, dan karena itu, diam terhadap Palestina sama halnya dengan mengkhianati sejarah kemerdekaan bangsa sendiri. Ia menegaskan bahwa keberpihakan kepada Palestina bukan semata urusan politik luar negeri, tetapi bagian dari tanggung jawab moral yang melekat pada jati diri bangsa Indonesia. “Kita ini bangsa yang tahu arti dijajah. Maka membela Palestina adalah bagian dari menjaga kehormatan kemerdekaan kita,” tegasnya.
Dalam wawancara itu, ia juga menyoroti pentingnya persatuan umat dan bangsa dalam menyuarakan keadilan. Menurutnya, perbedaan mazhab, organisasi, dan kepentingan politik tidak boleh menjadi penghalang bagi suara kemanusiaan. “Unity of purpose — satu tujuan, satu napas, satu hati: membela yang tertindas. Kita harus berdiri dalam satu tubuh moral, karena kemanusiaan itu tidak mengenal sekat,” tuturnya.
PUIP Magetan, lanjutnya, mengajak seluruh masyarakat untuk mengubah solidaritas menjadi tindakan nyata. Solidaritas, kata Gus Imam, bukan sekadar unggahan atau slogan di media sosial, melainkan langkah konkret yang diwujudkan melalui bantuan kemanusiaan, advokasi publik, dan tekanan diplomatik. “Solidarity is compassion in action. Kita tidak boleh berhenti di kata-kata. Kita harus bergerak, membantu, dan terus bersuara,” ujarnya tegas.
Ia juga menolak keras stigma yang menyebut perlawanan rakyat Palestina sebagai tindakan terorisme. “Perlawanan mereka adalah legitimate defense — pembelaan sah terhadap tanah air, keluarga, dan martabat. Hukum internasional mengakui hak setiap bangsa untuk melawan penjajahan. Maka siapa pun yang menyebut mereka teroris sebenarnya sedang membenarkan penindasan,” jelasnya.
Dalam bagian lain, Gus Imam mengungkapkan gagasan strategis PUIP Magetan untuk memperkuat diplomasi global. Salah satunya adalah usulan pembentukan “Palestine Room” di markas besar PBB, yang berfungsi sebagai pusat koordinasi diplomasi rakyat dunia. Menurutnya, diplomasi tidak boleh hanya dimonopoli oleh elit politik, tetapi harus menyuarakan kepedihan rakyat yang tertindas. “Diplomasi tanpa nurani hanyalah formalitas tanpa makna,” ujarnya lirih.
Ia kemudian memaparkan fakta-fakta empiris yang memperlihatkan betapa parahnya krisis kemanusiaan di Gaza. Menurut data yang ia kutip dari otoritas kesehatan Gaza, hingga September 2025 lebih dari 65.000 jiwa tewas, sebagian besar adalah anak-anak dan perempuan. Sekitar 70 persen korban adalah warga sipil, dan lebih dari 190.000 bangunan rusak atau hancur. Jutaan orang kini kehilangan tempat tinggal, air bersih, dan fasilitas kesehatan. “Itu bukan angka statistik. Itu manusia. Itu anak-anak yang seharusnya bermain, bukan berlari menghindari bom,” ucapnya penuh emosi.
Menutup wawancara, suara Gus Imam tiba-tiba melembut dan bergetar menahan haru. Matanya menerawang jauh, seolah menyaksikan sendiri penderitaan yang ia ceritakan. “Bayangkan malam-malam di Gaza,” katanya perlahan. “Anak-anak tak lagi mendengar nyanyian ibu, melainkan raungan peluru. Mereka memeluk dingin puing rumah sebagai selimut terakhir. Ibu-ibu menanti suara anaknya pulang — tetapi yang kembali hanya debu. Di bawah langit yang cerah tanpa bintang, mereka menatap kosong: Ummi… Abah… di mana?”
Ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang bergetar, “Kita minum air hangat di rumah kita, sedangkan mereka menelan pasir karena tak ada setetes air pun. Kita tidur dalam selimut, sementara mereka menggigil di antara reruntuhan. Jangan biarkan air mata mereka mengering tanpa arti. Di setiap tetes darah yang mengalir, ada panggilan bagi nurani kita. Jika kita masih memiliki hati, maka bangkitlah — berdirilah bersama mereka. Membela Palestina bukan semata gerakan politik, ini adalah panggilan kemanusiaan, amanah spiritual. Liberation of Palestine is liberation of our souls.”
Ruangan menjadi sunyi. Kata-kata itu menggantung di udara, menembus ke relung hati siapa pun yang mendengarnya. Tidak ada sorak, tidak ada tepuk tangan, hanya keheningan yang menyimpan tangis — tanda bahwa seruan itu telah sampai, bukan hanya di telinga, tetapi di kedalaman nurani manusia. (red)


No Responses