banner 728x90

Hidup Dengan Dua Anak, Tanpa Listrik dan Lampu Di Bekas Kandang

Kondisi rumah Sumini yang berada di teras milik tetangganya di RT
005/RW 001, Dusun Wates, Desa Kebonagung, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun,Rabu
(18/1/2017)
Madiun Mearindo.com – Kondisi kehidupan keluarga Sumini beserta dua
anaknya di rumah sederhana yang menumpang di samping rumah tetangganya bekas kandang di RT
005/RW 001, Dusun Wates, Desa Kebonagung, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun,
dijalani dengan penuh keterbatasan.
Anak Sumini, Eka Sumbi Mahendra (14), dan
Macica Putri Diansyah (12), harus mengungsi ke rumah nenek mereka saat
hendak belajar. Eka dan Macica saat petang menuju ke rumah nenek mereka
yang berada sekitar 100 meter dari rumah.
Mereka mencari tempat terang untuk belajar dan
mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dari sekolah. Kondisi ini dirasakan Eka dan
Macica dalam waktu empat tahun terakhir, saat dirinya diboyong orang tuanya
untuk tinggal di rumah sederhana di teras rumah bekas kandang kambing milik
tetangganya. Di rumah itu tidak ada listrik dan lampu.
“Eka dan Putri kalau belajar ke rumah
neneknya. Setelah selesai belajar, mereka langsung balik ke rumah untuk tidur.
Meski di rumah tempat tidurnya seadanya, mereka lebih nyaman tidur di sini,”
jelas Sumini kepada Mearindo.com, Rabu (18/1/2017).
Putri menyadari kondisi perekonomian
keluarganya. Untuk itu, dia tidak pernah merengek untuk mendapatkan hal-hal
yang bisa memberatkan orang tuanya.
Saat berangkat ke sekolah, dia bersama kakaknya
Eka yang saat ini duduk di bangku kelas VIII SMP di Madiun menggunakan sepeda
Gowes. Sedangkan saat pulang, Macica berjalan kaki karena pulangnya lebih awal
ketimbang di kakak. Jarak yang harus ditempuh mencapai 1 km untuk sampai ke
rumah. “Kalau berangkat bareng kakak,
kalau pulang sendiri jalan kaki,
” ujar Putri.
Di tengah kondisi serba kekurangan, Putri mengidap penyakit
asma yang kerap kambuh. Meski demikian, Putri selalu berprestasi
di sekolah yaitu ranking ketiga dan kedua.
“Saya bercita-cita menjadi atlet renang. Saya
sering latihan renang supaya bisa menjadi atlet,” kata dia.
Untuk memenuhi kebutuhan
hidup keluarganya, Sumini berjualan lauk pauk keliling kampungnya. Dalam
sehari ia bisa mendapatkan uang senilai Rp30.000. Uang tersebut biasanya
digunakan untuk makan dan memenuhi kebutuhan sekolah kedua anaknya. Ini dilakukan karena suaminya, Sarbini (39),
yang bekerja sebagai sopir truk di Surabaya jarang pulang dan jarang mengirimi
uang.
Sumini mengaku selama ini belum pernah
mendapatkan bantuan dari pemerintah. Bahkan BPJS Kesehatan pun, keluarganya
belum menerima sehingga saat ini harus mengeluarkan biaya untuk berobat.
“Ini baru pertama diberi bantuan oleh
pemerintah desa dan Polsek Mejayan. Sebelumnya kami belum pernah mendapatkan
bantuan sama sekali,” kata Sumini.
Dia berharap pemerintah bisa membantu
keluarganya untuk mendapatkan hunian yang layak. “Yang terpenting kedua
anak saya bisa sekolah dan bisa menjadi orang yang bermanfaat bagi semuanya,”
harap Sumini.(lak)
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan