banner 728x90

POLRES MAGETAN TAK TAHAN TERSANGKA PENAMBANG ILEGAL

Dua Juragan Galian C di Magetan Berstatus Tersangka Tidak Ditagan



Mearindo Magetan
Dua orang pengusaha galian C illegal di Kabupaten Magetan, ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak Polres Magetan. Tetapi kedua tersangka tidak ditahan oleh pihak polres setempat. Kepala Satuan Reskrim Polres Magetan, AKP M. Khoirul Hidayat mengatakan tersangka yang ditetapkan adalah Supriyono dan Sumarno yang merupakan pengelola dari proyek galian C. keduanya menjadi tersangka karena tidak memiliki izin Penambangan.

AKP M. Khoirul Hidayat menuturkan jika keduanya melanggar Undang-undang RI Nomer 4 tahun 2009 tentang penambangan, mineral dan batu bara. “Penetapan tersangka memiliki tambang illegal di Desa Sayutan Kecamatan Parang dan desa Tulung Kecamatan Kawedanan. Namun mereka tidak kami tahan hanya kita kenakan wajib lapor,” ujur M. Khoirul Hidayat

Selanjutnya,Kejaksaan Negeri (Kejari) Magetan sudah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dua tersangka kasus penambangan liar yang berhasil ditangkap tim Resmob Satreskrim Polres Magetan. “SPDP untuk dua tersangka penambang sirtu liar itu sudah kami terima dari polisi,”kata Kepala Seksi Pidana Umum Kejaksaan Negeri (Kasi Pidum Kejari) Magetan Adi Fakhruddin kepada (20/10/2014).

Menurut Adi Fakhrudin, kedua tersangka (TSK) yang SPDP-nya dikirim ke Pidum yaitu Supriyono warga Desa Sayutan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan dan Sukamto, warga Desa Tulung, Kecamatan Lembeyan, Kabupaten Magetan. “SPDP yang dikirim polisi untuk tersangkanya sementara hanya dua penambang, yaitu Supriyono dan Sukamto,” ujar Kasi Pidum Adi Fakhruddin.
Lantaran ini pertama, lanjut Jaksa Adi Fakhruddin, jaksa penuntut untuk perkara penambang liar yang menerapkan Undang Undang nomor 4 tahun 2004 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara harus Kasi Pidum.
“Ini yang pertama penindakan penambang sirtu liar dengan mengenakan pasal di undang undang nomor 4 tahun 2004 tentang pertambangan mineral dan batubara, maka harus saya sendiri sebagai jaksa penuntut umum (JPU) nya,”terang Jaksa Adi Fakhruddin.

Fakhruddin juga mengakatan, karena menerapkan undang undang baru untuk tersangka penambang sirtu liar itu, maka kedua tersangkanya tidak dilakukan penahanan, meski ancaman keduanya penjara selama 10 tahun dan denda Rp 10 miliar. “Karena ini pertama kali di Magetan, yang menerapkan undang undang Pertambangan Mineral dan Batubara. Maka kedua tersangka tidak dikenai penahan, itu alasan kenapa kedua TSK tidak ditahan,”tambah Jaksa Adi Fakhruddin.

Seperti diberitakan, Satreskrim Polres Magetan menangkap dua penambangan liar pasir dan batu di dua tempat. razia penambang liar sirtu itu sempat bocor. Sehingga polisi hanya mendapat penambang sirtu kelas teri.
Sedang juragan juragan penambang liar itu seluruhnya tiarap, karena sempat mendapat bocoran terlebih dahulu dari aparat yang selama ini jadi backing mereka, hal ini yang disinyalir mengakibatkan mereka bisa lolos dari razia polisi itu.

Meski begitu, razia penambang liar sirtu yang mengakibatkan kerusakan hebat lingkungan dan fasilitas jalan umum puluhan kilometer ini, mendapat acungan jempol dari warga masyarakat di kabupaten Magetan.
Meski razia ini banyak dinilai mirip mirip dengan pemberantasan pelaku judi toto gelap (togel), yang hanya menangkap pengecer.

“Razia panambang sirtu itu bagaimana pun perlu mendapat acungan jempol, meski belum bisa menangkap bos bos-nya, yang keburu tiarap dibocori backingnya. Mudah mudah tindakan hukum ini tidak tebang pilih, sebab pembedaan hukum juga sama dengan mendholimi orang, dan tentunya sekencang apapun kebohongan berlari pasti suatu saat kebenaran akan mengejarnya juga” kata Syaful Anam, Ketua Ormas Orang Indonesia Bersatulah ini kepada Mearindo Online, Senin (20/10/2014).

Dalam razia penambangan liar sirtu itu, polisi berhasil mengamankan tiga unit excavator, dua unit diamankan di halaman penimbunan kendaraan bermasalah di Mapolres Magetan dan satu unit excavator masih teronggok di penambangan di Gunung Blegu, Desa Trosono, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan dengan diberi garis polisi.

Ironisnya, excavator yang disebut terakhir ini sepertinya polisi belum berhasil mendapatkan pemiliknya. Pasalnya hingga kini polisi baru merilis dua tersangka yang masing masing dikenakan pasal 158, Undang Undang nomor 4 tahun 2004 tentang Pertambangam Mineral dan Batubara dengan ancam pidana penjara selama 10 tahun dan denda sebanyak Rp 10 miliar. (lak/tim)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan