banner 728x90

Kebutuhan Bahan Baku MBG Meningkat, Harga Gabah Naik Petani Sumringah

Poto pertanian desa Madigondo, Kecamatan Takeran, dan Kabupaten Magetan

Magetan, Mearindo.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah memberikan dampak positif pada ekonomi kerakyatan, mulai dari pertanian, perikanan, perdagangan, hingga membuka lapangan pekerjaan.

Pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Magetan pada 2025 diharapkan dapat meningkatkan permintaan bahan baku lokal, seperti sayuran, buah, dan padi, sehingga memberikan manfaat bagi petani dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan meningkatnya produksi padi dan diikuti dengan harga padi yang mulai merangkak naik, menjadi berkah tersendiri bagi petani, serta membuka peluang usaha baru bagi UMKM dan petani lokal.

Dilansir dari laman Badan Pangan Nasional (BAPANAS) telah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah untuk Perum Bulog dari 6000 per kilogram menjadi 6500 per kilogram sejak 15 Januari 2025. Di Kabupaten Magetan sendiri, harga gabah dan beras konsumsi telah mengalami kenaikan beberapa bulan terakhir.

Hal itu dibenarkan Kepala Bidang Pangan, Dinas Lingkungan Hidup Magetan, Awang Arifaini Rudin, sebagi penanggung jawab atas penyusunan kebijakan, bimbingan teknis, serta pemantauan dan evaluasi ketersediaan, distribusi, variasi konsumsi, dan keamanan pangan di Kabupaten Magetan.

“Harga jual di petani untuk gabah kering panen Rp.7.000-7.400/kg, harga HPP Rp. 6.500/kg. Untuk harga gabah kering giling di petani Rp. 8.200/kg, HPP Rp. 8.000/kg,” terang Awang, Rabu (26/11/2025).

Harga jual beras, lanjutnya, beras medium penggilingan Rp.13.000-13.200/kg, beras medium di konsumen Rp.13.500/kg, HET Rp. 13.500/kg. Untuk beras premium di konsumen Rp.14.900/kg, HET Rp. 14.900/kg.

Poto program Makan Bergizi Gratis pada siswa di wilayah Kabupaten Magetan

Disisi lain, Desa Madigondo, Kecamatan Takeran, merupakan contoh nyata bagaimana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat meningkatkan kesejahteraan petani. Sawah di desa ini rata-rata bisa panen padi tiga kali dalam setahun, dan harga padi telah mengalami kenaikan signifikan sejak MBG mulai distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

Mutakin, salah satu petani warga Desa Madigondo, menyatakan bahwa harga padi kini mencapai Rp 710.000 per kwintal untuk padi basah yang langsung dijual di sawah.

“Alhamdulillah, saya baru menjual padi kering ke bakul dengan harga 810.000/kwintal. Ini memberikan harapan baru bagi petani lokal,” ungkapnya.

Penguatan ketahanan pangan kedepan memerlukan kerjasama yang erat antara Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholder. Masyarakat sangat berharap adanya sosialisasi dari pemerintah untuk memanfaatkan lahan yang ada, baik itu sawah, ladang, pekarangan rumah, maupun lahan sempit, untuk ditanami sayuran dan meningkatkan produksi pangan lokal.

Kedepan, ketika masyarakat semakin peduli terhadap ketahanan pangan, maka mereka akan ikut menanam sayuran di pekarangan. Dengan demikian, peluang untuk memperkuat ketahanan pangan semakin terbuka lebar, karena masyarakat akan lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.

Dengan adanya Program Makan Bergizi Gratis (MBG), pasokan bahan baku lokal seperti sayuran dan padi dipastikan terus meningkat. Koperasi Merah Putih di Desa/Kelurahan diharapkan dapat menampung hasil panen masyarakat, sehingga memberikan keuntungan ekonomi bagi petani lokal. Dengan demikian, masyarakat dapat merasakan manfaat ekonomi dari program MBG, dan meningkatkan ketahanan pangan lokal. (G.Tik)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan