SUARA NURANI DARI MAGETAN UNTUK PENYELAMATAN INDONESIA
MAGETAN – Mearindo.com, Dari sebuah kota kecil di lereng Lawu, suara nurani bergema lantang. Dalam wawancara eksklusif bersama Gus Imam, Koordinator Forum Ummat Islam (FUI) Magetan di Markaz Senopati Sakral (Santri Kalong) , Takeran Magetan (22/09/2025).
Gus Imam menyampaikan pandangan yang tajam namun lembut, penuh kritik sekaligus doa untuk bangsa, “Indonesia ini seperti kapal besar yang sedang berlayar di tengah badai. Kita masih punya nakhoda, masih punya layar, tapi arah perjalanan seringkali menyimpang dari kompas yang bernama konstitusi,” ujar pendakwah ini dengan nada tenang.
Ia menyoroti korupsi sebagai penyakit paling kronis bangsa. Indeks Persepsi Korupsi 2024 hanya 37 dari 100, masih di bawah rata-rata global 43. Indeks Perilaku Anti Korupsi bahkan turun ke 3,85 dari 3,92 tahun sebelumnya. KPK mencatat, sepanjang 2022 ada 612 tersangka korupsi dengan kerugian negara Rp33,6 triliun. Kasus mutakhir seperti dugaan korupsi kuota haji hanyalah potret kecil dari kanker yang lebih besar. “Tanpa keberanian politik mengesahkan UU Perampasan Aset Koruptor, kita hanya berputar-putar di tempat. Bangsa ini butuh penegakan hukum yang jernih, tanpa diskriminasi,” ucapnya.
Dalam pandangan politik, Gus Imam menilai demokrasi kita kini terlalu dikuasai oleh oligarki. Ia menekankan perlunya revisi undang-undang politik agar rakyat kembali berdaulat penuh. “Jika tidak, demokrasi hanya menjadi barter kepentingan elite, bukan lagi perwakilan suara rakyat,” ujarnya. Ia juga menyinggung efektivitas pemerintahan. “Kabinet bukan panggung kompromi, tapi harus menjadi mesin kerja yang mampu menjawab kebutuhan publik. Legitimasi pemimpin ada pada kepercayaan rakyat, dan kepercayaan itu lahir dari hasil kerja nyata,” katanya.
Tentang POLRI, Gus Imam menyampaikan pandangan yang menyejukkan namun kritis. Ia mengakui survei menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat cukup tinggi: Litbang Kompas 2023 mencatat 87,8% publik puas terhadap kinerja umum POLRI, dan survei Rumah Politik Indonesia 2025 menempatkan POLRI sebagai lembaga hukum paling dipercaya publik dengan 20,11%. Namun, angka-angka itu harus diikuti langkah perbaikan yang menyentuh akar persoalan.
“Kepercayaan publik itu seperti kaca bening, mudah retak kalau tidak dijaga. Masih ada kasus besar yang belum tuntas, mulai dari tragedi KM50 hingga maraknya judi online. Masyarakat menunggu keberanian Polri untuk benar-benar menjadi pelindung rakyat. Reformasi Polri bukan soal ganti citra, tapi soal menghadirkan rasa keadilan yang nyata di tengah masyarakat,” jelasnya dengan bahasa yang lembut.
Ia juga menyinggung arah pembangunan nasional yang kerap menimbulkan luka sosial. Proyek-proyek raksasa seperti Eco City, PIK yang berjilid-jilid, reklamasi pesisir, bahkan pembangunan IKN, menurutnya, harus dihentikan karena termasuk pemborosan APBN. “Pembangunan memang penting, tapi ia harus berdiri di atas prinsip keberlanjutan dan keadilan sosial. Pertumbuhan tanpa keberpihakan pada wong cilik hanya akan melahirkan ketimpangan baru,” katanya dengan penuh empati.
Dalam isu program pemerintah, Gus Imam menyoroti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tersebar di berbagai daerah. Ia menegaskan pentingnya kehati-hatian dan langkah pasti dalam pelaksanaan program ini. “Program MBG ini sangat baik untuk anak-anak dan keluarga kurang mampu, tapi kita tidak bisa sembarangan. Ada kasus keracunan makanan yang muncul akibat distribusi yang kurang cermat. Screening nilai gizi, kesegaran makanan, dan prosedur distribusi harus dijaga ketat. Program ini harus berjalan dengan aman, transparan, dan bertanggung jawab, agar niat baik benar-benar sampai pada mereka yang membutuhkan,” ujarnya dengan tegas namun lembut.
Dalam isu ideologi, Gus Imam menekankan perlunya pendidikan sejarah yang lurus bagi siswa dan mahasiswa. “Generasi muda harus diajarkan sejarah kelam PKI dengan jujur, memahami bahaya ideologi komunis, dan mewaspadai kebangkitan Neo-PKI. Tanpa kesadaran sejarah, bangsa ini mudah terperdaya oleh narasi yang menyesatkan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya persatuan umat Islam. “Persatuan ummat adalah benteng eksistensi NKRI. Saat persatuan rapuh, ruang bagi ideologi asing dan kepentingan oligarki semakin lebar. Kita harus menguatkan ukhuwah, menjaga silaturahmi, dan bersatu demi masa depan bangsa,” ucapnya.
Dalam isu global, Gus Imam menyuarakan sikap tegas soal Palestina. “FUI Magetan sangat mendukung pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Majelis Umum PBB, yang menegaskan dukungan Indonesia terhadap kemerdekaan bangsa Palestina. Solidaritas pada Palestina adalah kewajiban moral sekaligus politik bagi bangsa ini. Kita tidak boleh goyah selagi tanah Palestina masih dijajah. Normalisasi dengan Israel sebelum Palestina merdeka adalah pengkhianatan terhadap amanat konstitusi dan nurani kemanusiaan. Dukungan ini sekaligus menegaskan komitmen FUI Magetan dalam menjaga eksistensi NKRI dan memperkuat persatuan umat Islam,” ucapnya dengan suara bergetar.
Gus Imam juga menekankan pentingnya menjaga konstitusi. Menurutnya, UUD 1945 harus dikembalikan pada naskah aslinya melalui TAP MPR agar tidak terus dipermainkan oleh kepentingan politik sesaat. Ia menambahkan, perlindungan terhadap ulama, habaib, dan majelis ilmu harus dijamin sepenuhnya. “Belakangan ada ancaman pembubaran terhadap majelis ilmu. Padahal kebebasan berkumpul dan beribadah adalah hak konstitusional. Negara harus hadir memberi perlindungan, bukan malah membiarkan umat merasa takut,” ucapnya.
Ia juga menyinggung isu dugaan ijazah palsu Presiden Jokowi. “Kalau ada bukti valid, harus dibuka terang-benderang. Rule of law harus tegak tanpa pandang bulu, siapapun yang diduga melanggar hukum harus diproses. Kebenaran itu tidak bisa ditutup selamanya,” katanya dengan tenang.
Menutup wawancara, Gus Imam menyerukan pesan yang lahir dari kedalaman hati. “Dari Magetan ini kami serukan: tegakkan hukum dengan adil, kembalikan politik pada rakyat, hentikan pembangunan yang menyingkirkan wong cilik, hentikan pembangunan IKN, jalankan program sosial dengan hati-hati dan penuh tanggung jawab, ajarkan sejarah dengan lurus kepada generasi muda, kuatkan persatuan ummat, jaga konstitusi dari manipulasi, dan jangan pernah berhenti membela Palestina. Bangsa ini hanya akan selamat jika ada keberanian moral, integritas hukum, dan komitmen tulus pada Pancasila yang murni. Sisanya kita serahkan kepada Allah, Tuhan yang menggenggam takdir bangsa. Semoga Indonesia tetap dijaga-Nya, menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—tanah yang subur, damai, penuh ampunan, dan diridai-Nya,” pungkasnya. (red)


No Responses