banner 728x90

Polemik Pedagang Kecil Magetan, KP2SM Wadul Ke Dewan Bawa 10 Tuntutan

Jawatimur – Magetan – Mearindo.com – puluhan pedagang yang bergabung dalam Komunitas Pedagang Pasar Sayur Magetan (KP2SM) mendatangi kantor DPRD Kabupaten Magetan pada Kamis (30/6/2022).

Kedatangan mereka tak lain untuk audensi dengan DPRD mengadukan permasalahan yang tentang pedagang di pelataran Pasar Sayur yang notabene mereka jam jualanya bersamaan dengan jam jualan para pedagang di dalam yang mereka memiliki lapak dan memiliki kartu kuning atau tempat berjualan resmi, itulah yang selalu dituntut oleh teman-teman pedagang supaya ditertibkan.

Hal itu disampaikan Gunadi, S.H ketua Komunitas Pedagang Pasar Sayur Magetan (KP2SM) pada awak media usai audiensi dengan DPRD Magetan.

“Teman- teman pedagang tidak menuntut itu untuk digeser atau untuk digaruk maupun untuk dihilangkan, tapi menuntut untuk ditertibkan atau di masuk kan di lapak pasar sayur yang ada didalam karena yang masih kosong itu masih banyak,” ungkapnya

Diceritakan gunadi, kami sudah audiensi dengan Disperindag 4 kali, dengan Bapak Bupati 1 kali dan ini adalah terakhir audiensi dengan DPRD Magetan sebagai wakil rakyat kami.

“Nah, janji terakhir ini nanti mudah-mudahan ada solusi terbaik, apa bila tidak ada solusi, ya mohon maaf kami nanti akan ada beberapa poin tindakan berikut yg kami belum bisa menyampaikan. Tergantung nanti kesepakatan bersama teman pedagang yang lain,” tegas Gunadi

Untuk tindak lanjutnya, besok kami di undang ke Disperindag untuk kita duduk bersama membentuk satgas, yaitu kolaborasi antara Disperindag, Satpolpp dan teman paguyuban pedagang untuk monitoring. Insya Allah Kepala Disperindag sudah menjanjikan akan dibuat pos pantau monitoring apabila nanti ada pedagang baru yang mau berjualan yang itu akan menimbulkan gesekan lagi dengan bagian dalam supaya segera diambil tindakan dan diperingatkan supaya jam buka nya digeser, terangnya

Gunadi menjelaskan, “yang dituntut pedagang dalam itu bukan pedagang malam, tetapi hanya pedagang siang yang berjualan antara jam 6 pagi sampai jam 4 sore karena jam nya berjualan bersamaan. Ketika mereka membuka lapak diluar otomatis mematikan pedagang yang di dalam, karena mereka memiliki lapak resmi akhirnya mereka menuntut haknya,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Magetan Sujatno mengatakan, apa yang disampaikan oleh teman-teman pedagang sudah diterima oleh Disperindag dan akan ditindaklanjuti. Kita berharap, demi kondusifitas Magetan tidak usah melaksanakan aksi unras terkait permasalahan ini.

“Dari Disperindag pun akan membentuk tim untuk pelaksanaan penertiban dan dari Paguyuban segera menyiapkan siapa – siapa perwakilannya,” tutup Sujatno.

Sucipto Kepala Disperindag Magetan saat di wawancarai enggan di konfirmasi.

“Maaf mas belum bisa menjawab, karena kami segera membentuk tim di Kantor,” katanya

Berikut 10 tuntutan Komunitas Pedagang Pasar Sayur Magetan :

  1. Pedagang pelataran wajib dibersihkan dan ditiadakan tanpa terkecuali.
  2. Tidak ada dalih mengaku sebagai pedagang besar/grosir karena pada kenyataannya praktek di lapangan mereka tetap jual eceran.
  3. Bersihkan semua akses jalan baik jalan utama maupun jalan-jalan besar akses masuk pasar dari aktifitas pedagang apapun tanpa terkecuali. Kecuali pedagang yang telah menempati lapak-lapak yang memiliki kartu kuning/kartu kepemilikan hak berjualan di pasar sayur.
  4. Hentikan dan tiadakan penarikan retrebusi pada pedagang di pelataran yang notabene waktu mereka berjualan bersamaan dengan jadwal berjualan pedagang dalam/pedagang resmi yang memiliki lapak berjualan karena ketika mereka masih dikenakan retrebusi dari pihak Dinas Pasar mereka merasa memiliki hak untuk berjualan. Dan apabila terbukti ada petugas dari Dinas Pasar yang melakukan penarikan retrebusi maka supaya di beri sangsi, karena seharusya mereka bertugas untuk menertibkan bukan malah membiarkan dan terkesan memberikan tempat.
  5. Parkir sepeda, motor di utara pintu masuk masjid supaya di pindah karena sangat mengganggu aktifitas bongkar muat pihak SPSI (tenaga gendong/ tenaga panggul).
  6. Bapak Bupati telah merekomendasikan untuk memberikan/membuka akses jalan pintu masuk pasar sayur dari selatan timur pos lantas polisi. Akan tetapi hingga hari ini tetap belum terealisasi padahal sebelumnya sudah dijanjikan oleh Disperindag di bulan Januari 2022 akan segera direalisasikan, tapi faktanya hingga hari ini belum di jalankan.
  7. Para pekerja panggul yang tergabung di SPSI merasa sangat dirugikan semenjak semakin banyak dan menjamurnya pedagang dipelataran karena para pembeli enggan masuk ke pasar sehingga aktifitas bongkar muat dan jasa gendong berkurang sangat drastis.
  8. Apabila Dinas terkait tidak mampu menertibkan para pedagang liar dengan tuntas maka limpahkan tugas dan wewenang penertiban tersebut kepada perwakilan pedagang dengan catatan berikan kami legalitas dan penunjukan resmi agar proses penertiban ini tidak berjalan setengah hati.
  9. Kami para pedagang meminta supaya dibuat pos pantau plus petugas resmi dari Dinas untuk selalu monitoring pedagang-pedagang liar dipelataran supaya tidak melakukan aktifitas berjualan disiang hari.
  10. Kami mengultimatum kepada semua Dinas terkait 10 hari setelah pelaksanaan audiensi ini para pedagang liar di pelataran tidak steril, maka kami akan mengadakan demo besar-besaran, tidak perlu lagi ada lapak-lapak di dalam. Jadikan pasar sayur menjadi pasar bebas seluruh pedagang dalam bebas menggelar dagangannya di luar pasar sayur. (G.Tik)
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan