banner 728x90

Pembuatan IPAL Komunal Di Dabok Lama dan Desa Narekeh Asal-Asalan Mengakibatkan Bau Aroma Tak Sedap Sejak Lebaran Kemarin

Ketua LSM K-PK Ilham Rokan Pakai Kaca Mata, Ketua LSM Petir Sucipto Baju Biru dan 2 orang perangkat desa Dabok Lama saat mengantar untuk cek lapangan atas laporan dari masyarakat, Senin (17/7/2017)

Lingga-Mearindo.com
Media Orang Indonesia
Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Kondisi sanitasi di Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau masih relatif buruk dan jauh tertinggal dari sector-sektor pembanguana lainnya.
Buruknya kondisi sanitasi ini berdampak negatif dibanyak aspek kehidupan, mulai dari turunnya kualitas hidup masyarakat, terancamnya sumber air minum bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya penyakit pada balita, turunnya daya saing maupun citra Kabupaten, hingga menurunnya perekonomian Kabupaten tersebut

Penyebab buruknya kondisi sanitasi dikarenakan lemahnya perencanaan pembanguana sanitasi, tidak terpadu, salah sasaran tidak sesuai kebutuhan, dan tidak berkelanjutan, serta kurangnya perhatian masyarakat pada prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Salah satu upaya memperbaiki kondisi sanitasi adalah dengan menyiapkan sebuah perencanaan pembanguana sanitasi yang responsitif dan berkelanjutan.

Sejak adanya program pengadaan jambanisasi/pembuatan septic tank secara bersama memberi dampak berbeda di Desa Dabuk Lama dan di Desa Nerekeh Kabupaten Lingga Provinsi Kepulauan Riau.

Lingkungan Desa sebelum dibangun IPAL Komunal terlihat kumuh dan kotor, namun setelah adanya program sarana sanitasi yang di bangun Pemerintah Kabupaten setempat pada tahun 2015 lingkungan menjadi tertata dan bersih namun ini semua menjadi bomerang karena pembangunan yang di biaya dengan dana APBD Rp. 1,5 M sebanyak 21 titik untuk Desa Dabok Lama dan Rp. 955 Juta sebanyak 14 titik untuk desa Nerekeh, lingkungan pada akhir-akhir ini mencium aroma tak sedap dari tangki-tangki sanitasi komunal tersebut karena menggunaan tangki bak air biasa di rekayasa oleh pelaksananya.

Sucipto Ketua Umum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Petir mengatakan memang awalnya masyrakat Dabok Lama dab Desa Nerekeh menolak adanya pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Komunal, dengan alas an takut terkena dampak bau dari kotoran tinja, namun melalui sosialisasi pemehaman tentang manfaat IPAL, dan keuntungan kepada masyarakat akhirnya disepakati di bangunnya IPAL di tempatkan di Desa Dabok Lama dan di Desa Narekeh tepatnya di tepi aliran sungai.

“Setelah terbangun IPAL dan masyarakat menyambung saluran pembuangan air limbah baik tinja maupun air limbah rumah tangga, masyarakat awalnya menyadari dan merasakan manfaat yang besar, akhirnya setelah berjalan kurang lebih hampir setahun benar apa dugaan masyarakat, sejak bulan puasa kemarin warga mulai mencium aroma tak sedap dari IPAL – IPAL yang dibangun dengan merogoh kocek APBD sebanyak Rp. 2,455 M ini dikerjakan dengan asala-asalan hanya mencari keuntungan semata serta tidak sesuai cara yang benar membuat IPAL,”ucap Sucipto, Minggu (30/7/2017).

Ditambahkan Ketua LSM Komisi Pemantau Korupsi, Ilham Rokan mengatakan pembuatan IPAL Komunal yang berada di Dabok Lama dan di desa Narekeh itu seolah – olah ada rekayasa hanya untuk menyedot Anggaran APBD karena pembuatan IPAL Komunal tersebut asal-asalan, menggunakan bahan yang tidak sesuai dengan aturan pembuatan IPAL Komunal, hal ini jelas ada dugaan atau indikasi mark up anggaran.

“Kalau IPAL Komunal dibuat secara benar pasti tidak akan terjadi konplain dari masyarakat sekitar karena aroma tak sedap dan kami yakin pihak pelaksana pembuatan IPAL Komonal yang berada di Dabok Lama dan Desa Narekeh pasti tidak mempunyai ijin khusus tentang pengolahan limabah itu sebabnya pengerjaan hanya dengan cara rekayasa,”terang Ilham Rohan.

Media Mearindo.com saat menemui Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Lingga pada hari Kamis (20/7/2017) lagi tidak ada ditempat namun di temui oleh sekretaris PUPR dan menyambungkan kepela Dinas PUPR dijanjikan untuk ketemu pada hari Jumat (21/7/2017), namun kepala PUPR kembali untuk membatalkan pertemuan karena pada hari Sabtu (22/7/2017) mau ke Jakarta hingga Selasa (25/7/2017) dan menjanjikan lagi hari Rabu (26/7/2017) dan pada hari Rabu tersebut juga dibatalkan.

Akhirnya Media Mearindo.com berusaha untuk mencari tahu tentang kronologi perjalanan sejak lelang hingga terealisasinya pembangunan IPAL Komunal yang berada di dua tempat di Desa Dabok Lama dan di desa Nerekeh tersebut, menjumpai mantan PPTK, Syamsuddin mengatakan bahwa pembangunan IPAL sempat dilelangkat sebanyak 3 kali tak ada peminatnya akhirnya dipaksakan untuk dikerjakan yah itulah hasilnya dan saya sebagai PPTK hanya PPTK pengganti karena PPTK yang ditunjuk mengundurkan diri sedangkan saya sebenarnya dalam hal proyek IPAL Komunal sama sekali tidak mengusai tapi tahu-tahu saya yang ditunjuk.

“Semenjak LSM Petir dan LSM K-PK mengklarifikasi keberadaan IPAL Komunal ke Dinas PUPR Kabupaten Lingga kami berusaha mengadakan pertemuan di Dabok untuk koordinasi mengenai apa yang ditanyakan LSM Petir dan LSM K-PK, rencana kami akan bertemu dengan Kontraktor Pelaksana, Konsultan Perencana, Tokoh Masyarakat serta Anggota Dewan dan itu baru bisa ketemu pada hari Kamis (27/7/2017) malam,”terang Samsudin. Rabu (26/7/7/2017) kemarin. (Lak)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan