banner 728x90

Pengusaha Kuliner di Magetan Tak Mau Rugi, Beralih ke Cabai Kering

Pedagang cabai rawit di Pasar Sayur Magetan
yang harganya semangkin melangit, banyak yang beralih ke cabai kering sebab
harganya jauh lebih murah
Magetan
Mearindo.com – Sejak Akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017  hingga pertengahan bulan Januari 2017, tingginya
harga cabai rawit di pasaran yang mencapai Rp. 90.000 hingga Rp. 100.000 per
kilogram membuat sejumlah pemilik warung makanan di Kabupaten Magetan, Jawa
Timur, beralih membeli cabai kering.
“Harga
cabai kering hanya Rp. 58.000 hingga Rp. 70.000 per kilogram, tergantung dari
kualitasnya,”ujar seorang pembeli di Pasar Sayur Magetan, Elfida, kepada
Mearindo.co, Jumat  (13/1/2017).
Ia
mengatakan kecenderungannya membeli cabai kering karena harganya yang jauh
lebih murah dibandingkan dengan cabai rawit segar. Untuk
hasil masakan yang nikmat, Elfida yang memiliki usaha Cattering makan tersebut
mengaku mencampur cabai rawit kering dengan cabai rawit yang bagus
(segar).
 

“Jadi kalau
belanja ke pasar ya beli dua-duanya. Beli cabai rawit yang mahal dan cabai yang
kering. Nanti di rumah pengolahannya dicampur,” kata dia.
Elfida mengaku
rugi jika bahan baku masakannya hanya menggunakan cabai rawit segar yang
harganya mencapai Rp. 100.000 per kilogram. Untuk menekan biaya produksi, ia
terpaksa mencampur cabai segar dengan cabai kering.
Pedagang
cabai di Pasar Sayur Magetan, Jumirah, membenarkan jika banyak konsumennya
beralih dari cabai rawit ke cabai rawit kering. Selain harganya lebih
murah, cabai kering memiliki tingkat kepedasan yang sama dengan yang segar.
“Banyak
yang membeli cabai rawit kering daripada cabai rawit biasa untuk memasak. Sebab
harganya lebih terjangkau. Sedangkan untuk cabai merah dan keriting peminatnya
sedikit,” kata Jumirah.
Karena
banyak yang beralih ke cabai kering, makanya ia tidak pernah kulakan cabai
rawit dalam jumlah besar. Jika biasanya bisa kulakan hingga 50 kilogram untuk
setiap pengiriman selama dua kali dalam sepekan, sekarang hanya tinggal 20 kilogram
saja.
“Selain
berkurang karena tidak laku, kulakan saya yang sedikit tersebut juga
dipengaruhi oleh stok dari petani yang minim akibat gagal panen,” kata dia.

Ia mengaku rugi
karena penjualan cabai rawit dan cabai jenis lainnya yang menurun drastis setelah
harganya melonjak. Jika biasaanya ia bisa menjual hingga 30 kilogram per hari,
kini hanya tinggal setengahnya.(lak)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan