banner 728x90

Kenaikan Harga Cabai Rawit Akibat Inflasi Kota Madiun 0,45%

Buruh petik memanen cabai rawit di areal
perkebunan cabai kawasan Poleng, Kota Madiun

 

Madiun
Mearindo.com – Dai Akhir tahun 2017 sampai awal tahun 2017, komoditas cabai
rawit terus naik signifikan di sejumlah pasar tradisional yang saat ini
berkisar antara Rp75.000 hingga Rp100.000 per kilogram dari harga normal yang
mencapai Rp30.000-an per kilogram.
Kenaikan
harga cabai rawit itu memicu inflasi di Kota Madiun, Jawa Timur pada
Desember 2016 yang mencapai 0,45 persen dengan indeks harga konsumen (IHK)
sebesar 122,74.
“Inflasi
di Kota Madiun terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh
adanya perubahan indeks pada beberapa kelompok pengeluaran,” ujar Kepala Seksi
Statistik dan Distribusi BPS Kota Madiun, Adi Priyanto, dalam rilisnya, Senin
(9/1/2017).
Menurut
Adi, selain cabai rawit sejumlah komoditas yang dominan mempengaruhi terjadinya
inflasi pada Desember 2016 di antaranya bawang merah, telur ayam ras, tarif
listrik, dan pembalut wanita.
“Sedangkan
komoditas yang mengalami penurunan harga dan menghambat laju inflasi antara
lain kayu balokan, salak, emas perhiasan, minyak goreng, dan buah pir,” kata
Adi Prayitno.
Pihaknya
menjelaskan, dari tujuh kelompok pengeluaran yang ada, sebanyak enam kelompok
di antaranya menyumbang inflasi dan satu kelompok menekan inflasi. Kelompok
yang menyumbang inflasi di antaranya kelompok bahan makanan: kelompok makanan
jadi, minuman, rokok, dan tembakau; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan
bahan bakar; kelompok kesehatan; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olah raga;
dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
“Sedangkan
kelompok sandang menekan inflasi dengan andil sebesar 0,015 persen,” tambah Adi
Prayitno.
Adapun
perubahan kenaikan indeks pada enam kelompok pengeluaran yang dominan
mempengaruhi inflasi adalah kelompok bahan makanan sebesar 1,02 persen;
kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,21 persen;
kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,11 persen;
kelompok kesehatan sebesar 0,91 persen.
Ia
menambahkan, dari delapan kota penghitung inflasi nasional di Jawa Timur,
seluruhnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Jember
sebesar 0,93 persen dengan IHK 122,56 dan inflasi terendah terjadi di Kota
Kediri sebesar 0,36 persen dengan IHK sebesar 122,56.
Sementara,
secara rinci, kedelapan kota yang mengalami inflasi tersebut adalah Jember 0,93
persen IHK 122,56; Malang 0,58 persen IHK 126,35; Surabaya 0,56 persen IHK
125,77; Sumenep 0,53 persen IHK 123,01.
Kemudian,
Banyuwangi 0,47 persen IHK 122,50; Madiun 0,45 persen IHK 122,74; Probolinggo
0,38 persen IHK 123,08; dan Kediri 0,36 persen IHK 122,56.(Lak)
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan