Magetan Kumandang, Tapi Siapa yang Madiang? Ironis Hujan di Bulan Kemarau dan Kearifan Lokal yang Tumpul
Oleh Lilik Abdi Kusuma, Aneh dan sulit dimengerti logika. Secara kalender alam, akhir Maret hingga awal April seharusnya menjadi pintu gerbang musim kemarau. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya? Langit seolah bocor tanpa henti, menumpahkan air dalam volume yang luar biasa. Curah hujan yang turun bak melampaui nalar, membuat kita bertanya-tanya: Apakah ini sekadar perubahan cuaca, atau justru teguran keras dari alam atas apa yang telah kita perbuat?
Seorang penggiat lingkungan, Gimbal, pernah mengingatkan dengan tegas: “Jika kita tidak peduli lingkungan, bencana akan datang dan merugikan kita sendiri.”
Kini, ucapan itu menjadi nyata. Mata kita disuguhkan pemandangan yang memilukan. Hutan-hutan yang seharusnya menjadi paru-paru penyerap air, kini berubah fungsi menjadi area wisata dan lahan pertanian intensif demi keuntungan sesaat. Sampah plastik menumpuk di mana-mana, tidak dikelola dengan baik, hingga menyumbat setiap aliran air. Alam tak lagi bisa menahan beban, maka meluaplah air menjadi bencana yang kita rasakan hari ini.
Bencana ini pun menjadi obrolan hangat di setiap warung kopi. Beragam komentar bermunculan. Ada yang bersikap apatis: “Biarlah ahli dan teknisi yang mikir, ngapain kita ikut campur?” Sikap pasrah ini justru mematikan daya kritis masyarakat.
Namun, ada satu komentar yang sangat tajam dan menyentuh hati mengenai semboyan daerah kita: “Magetan Kumandang Yen Kabeh Tumandang” (Magetan akan maju/gemilang jika semua bekerja).
Faktanya, masyarakat sudah tumandang (sudah bekerja keras, sudah berusaha). Tapi kenapa hasilnya belum terasa maksimal? Ada yang menyindir, semboyan ini sepertinya sudah tidak relevan dan harus diganti menjadi: “Magetan Kumandang Yen Kabeh Madiang” (Magetan gemilang jika semua ikut menikmati hasil).
Kenapa begitu? Karena realita di lapangan menunjukkan, masyarakat yang bekerja memang banyak, tapi yang “madiang” atau menikmati hasil serta kemudahan hanya segelintir orang elit saja. Ini terlihat jelas dari gaya kepemimpinan yang terkesan saling pamer aksi di media sosial.
Kita melihat Kepala Dinas memposting kebijakannya, Anggota Dewan unjuk gigi dengan turun ke gorong-gorong. Tapi sayangnya, banyak dari aksi tersebut hanya sekadar pencitraan, tanpa solusi konkret dan tanpa dukungan anggaran yang jelas. Bahkan, ada yang sampai mendapat julukan “Sambong-nya Magetan” karena gaya kerjanya yang hanya memerintah tanpa solusi.
Pola kepemimpinan seperti ini sungguh tidak efektif. Masalah banjir dan lingkungan bukan urusan satu orang atau satu Dinas saja. Ini masalah besar yang butuh sinergi.
Seharusnya, Pemimpin Nomor Satu di Magetan segera bertindak tegas. Kumpulkan semua OPD terkait, pakar lingkungan, hingga unsur TNI dan Polri. Duduk bersama dalam satu meja, bahu-membahu mencari solusi akar masalah, bukan sekadar mengobati gejala.
Tapi lihatlah realitanya. Saat ASN melakukan kegiatan bersih-bersih di sekitar Pasar Baru pada hari Jumat, anehnya warga sekitar hanya jadi penonton. Pihak kelurahan seolah lupa mengajak atau mengundang masyarakat untuk ikut kerja bakti. Padahal, jika diajak, warga pasti mau turun tangan. Justru dari wargalah kita bisa mendapatkan data akurat, keluhan nyata, dan solusi lokal yang paling paham kondisi lapangan.
Masyarakat Magetan sebenarnya sangat patuh dan mau bekerja sama, asalkan pemerintah bersikap terbuka dan transparan. Warga tidak menolak pembangunan, mereka hanya ingin tahu proyek apa yang sedang berjalan, apakah menguntungkan atau justru merusak lingkungan tempat mereka tinggal.
Sayangnya, sekarang ini terlihat masing-masing OPD berjalan sendiri-sendiri sesuai kehendak pribadi. Padahal, persoalan ini rumit dan menyangkut banyak sektor. Tidak mungkin satu instansi bisa menyelesaikannya sendirian.
Mari berhenti bekerja setengah hati dan saling sikut. Satukan kekuatan, libatkan semua elemen termasuk TNI/Polri, dukung dengan anggaran yang cukup, dan libatkan masyarakat sebagai mitra, bukan hanya sebagai penonton. Jika semua bersatu, bukan tidak mungkin Magetan akan benar-benar “Kumandang” dan terbebas dari ancaman bencana.


No Responses