banner 728x90

Introspeksi Diri Waspada Tiga Tanda Matinya Hati Kita, Hati Gelap Dari Cahaya Agama,

Santri Kalong, Berdasarkan berbagai kajian tasawuf, khususnya yang merujuk pada tanda-tanda hati yang mati (gelap) yang sering dikaitkan dengan nasihat para ulama salaf seperti Wahb bin Munabbih dan hikmah dalam Kitab Al-Hikam karya Ibnu Atha’illah as-Sakandari, hati yang gelap, mati, atau keras memiliki tanda-tanda yang menunjukkan hilangnya kepekaan spiritual. Berikut adalah 3 tanda hati gelap (mati/keras):

“لا يحزن على ما فاته من الطاعات”
(La yahzan ‘ala ma fatahu min ath-tha’at) artinya adalah “Tidak merasa sedih/menyesal atas ketaatan yang terlewatkan atau Tidak merasa sedih atau menyesal saat melakukan dosa/maksiat.

(ترك الندم على ما فاتك) :
(Tarku al-nadam ‘ala ma fataka)Tidak merasa menyesal atas dosa yang dilakukan

Makna: Seseorang tidak merasa berdosa ketika meninggalkan kewajiban atau terjebak dalam perbuatan maksiat. Orang tersebut tidak memiliki rasa sedih atau sesal saat kehilangan kesempatan beramal shalih atau ketika melanggar aturan Allah. Tandanya jika ia melakukan kemaksiatan atau perbuatan yang dimurkai Alloh tapi hatinya justru tenang seperti tidak merasa bersalah. Lebih-lebih melakukan kemaksiatan dengan terang terangan seperti mabuk khomer didepan umum, perempuan tidak menutup aurat, berjoget – joget tidak beradap didepan publik atau diatas panggung.

لا يجد حلاوة الطاعة
Tidak merasakan kelezatan dalam ketaatan/ibadah.

Makna: Hati tidak lagi merasakan manisnya iman, nikmatnya shalat, atau khusyuk saat berdzikir. Tidak ada lagi rasa gentar atau rasa hormat yang mendalam kepada Allah SWT dalam hatinya. Dapat ditandai sholat tidak tumakninah atau tidak andal asor, terburu buru dalam bacaan dan gerakan sholat, sedangkan hakekat sholat adalah kontak batin dan geraknya seorang hamba dengan Sang Penciptanya.

(قسوة القلب)
Qoswatul Qolbi atau kerasnya hati,
Tidak mempan diberi nasihat

لا يؤثر فيه الوعظ
Laa yu’atstsir fiihi al-wa’zh atau tidak terpengaruh oleh nasihat dan peringatan.

Makna: Hati sudah terlalu keras sehingga mendengarkan ayat Al-Qur’an, hadits, atau nasihat kebaikan tidak lagi membuat hatinya tersentuh atau takut kepada Allah. Hati menjadi sangat keras sehingga nasihat baik, ayat Al-Qur’an, atau teguran tidak lagi mampu menyentuh atau melembutkan hatinya. Contohnya seperti meskipun rajin mendengar teguran Alloh melalui nasehat para ulama maupun ustadz saat pengajian ataupun ceramah namun orang itu tidak segera merubah dirinya lebih baik lagi.

Dalam konteks lain (seperti yang sering dikutip dalam kitab Al-Hikam atau nasihat Wahb bin Munabbih), penyebab hati gelap juga sering disebutkan dalam empat hal: banyak makan, bergaul dengan orang zalim, lupa dosa masa lalu, dan angan-angan terlalu panjang.

Nasihat Wahb bin Munabbih menyebutkan 3 tanda orang yang memiliki penyakit hati (hasad):

يغتاب إذا غاب المحسود
(Menggunjing jika orang yang dihasadi tidak ada)

يتملق إذا شهد
(Bermuka manis/memuji di depan orangnya)
ويشمت بالمصيبة
(Senang/bersyukur ketika orang lain tertimpa musibah).

Penulis Syifaul Anam, Photo kegiatan ziarah waliyullah

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan