banner 728x90

Antara Suap, Korupsi, Pejabat Dan Aparat

 sudut pandang hukum, perbuatan korupsi
mencakup unsur-unsur melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang,
merugikan negara, memperkaya pribadi atau diri sendiri
Artikerl-Mearindo.com, oleh Lilik Abdi Kusuma (Jurnalis Mearindo)
Korupsi mengutip dari Transparency International adalah perilaku pejabat publik, baik politisi maupun
pegawai negeri, yang secara tak wajar dan ilegal memperkaya diri atau
memperkaya mereka yang dekat dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik
yang dipercayakan kepada mereka.
Dari sudut pandang hukum, perbuatan korupsi mencakup
unsur-unsur melanggar hukum yang berlaku, penyalahgunaan wewenang, merugikan
negara, memperkaya pribadi atau diri sendiri.
Apa korupsi hanya buat pejabat negara saja? Jelas, tidak.
Dalam arti yang luas, korupsi atau korupsi politis adalah penyalahgunaan
jabatan resmi untuk keuntungan pribadi. Tapi memang semua bentuk pemerintahan rentan
korupsi dalam praktiknya.
Ingatkan pepatah yang bilang Power tends to coprrupt, Beratnya korupsi berbeda-beda, dari yang
paling ringan dalam bentuk penggunaan pengaruh dan dukungan untuk memberi dan menerima
pertolongan, sampai dengan korupsi berat yang diresmikan, dan sebagainya.
Titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri,
di mana pura-pura bertindak jujur pun tak ada sama sekali.
Korupsi yang muncul di bidang politik dan birokrasi bisa
berbentuk sepele atau berat, terorganisasi atau tidak. Walau korupsi sering
memudahkan kegiatan kriminal seperti penjualan narkotika, pencucian uang, dan
prostitusi.
Korupsi itu sendiri tidak terbatas dalam hal-hal ini saja.
Untuk mempelajari masalah ini dan membuat solusinya, sangat penting untuk
membedakan antara korupsi dan kejahatan.
Bergantung dari negaranya atau wilayah hukumnya, ada
perbedaan antara yang dianggap korupsi atau tidak. Sebagai contoh, pendanaan
partai politik ada yang legal di satu tempat namun ada juga yang ilegal di
tempat lain.
Dampak korupsi sudah jelas! Korupsi bikin mekanisme pasar
tidak berjalan. Proteksi, monopoli dan
oligopoli
menyebabkan ekonomi biaya tinggi dan distorsi pada distribusi barang dan jasa, dimana pengusaha yang
mampu berkolaborasi dengan elit politik mendapat akses, konsesi dan
kontrak-kontrak ekonomi dengan keuntungan besar.
Kita harus bertindak tegas, ini secara tegas bukan hanya
tegap diam berdiri angkat tangan. Katakan “Stop Korupsi dan Suap di Indonesia” demi kesejahteraan rakyat
di masa depan mendatang.
Dan jangan biarkan tikus Berjaya, mari kita bunuh para
tikus – tikus koruptor (maksudnya bukan
tikus peliharaannya para koruptor
). Mari kita injak habis tanpa sisa tikus
– tikus itu, buang jauh – jauh dari muka bumi ini. Kita akan aman tanpa mereka
meskipun mereka sedikit dibutuhkan.
Unsur-unsur suap adalah sebagai berikut : Penerima suap,
yaitu orang yang menerima sesuatu dari orang lain baik berupa harta atau uang
maupun jasa supaya mereka melaksanakan permintaan penyuap, padahal tidak
dibenarkan oleh syara’, baik berupa perbuatan atau justru tidak berbuat
apa-apa.
Pemberi suap, yaitu orang yang menyerahkan harta atau
uang atau jasa untuk mencapai tujuannya. Suapan, yaitu harta atau uang/barang
atau jasa yang diberikan sebagai sarana untuk mendapatkan benda dan atau sesuatu
yang didambakan, diharapkan, atau diterima.
Sudah bukan rahasia lagi kalau negara kita ini termasuk
salah satu sarang koruptor paling banyak di dunia. Tidak di mana-mana, pelaku tilep-menilep yang bukan haknya sudah
jadi darah daging. Di tingkat sekolah, ada. Tingkat RT, banyak. Tingkat, negara?
Wah, itu mah sudah jagonya.
Sepertinya kita memang sudah akrab benar dengan istilah
koruptor ini. Tapi belum tentu juga kita tahu benar – benar artinya. Yuk ngaji
tentang koruptor ini, Korupsi diambil dari bahasa Latin. Definisi korupsi
dimabil dari kata corruptio dari kata
kerja corrumpere yang berarti busuk,
rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok.
Nah, di atas tadi sudah jelas bahwa korupsi maupun suap
yang sejenisnya itu sudah jelas – jelas di larang. Bisa – bisa kena batunya
seperti koruptor yang korupsi selama bertahun – tahun pasti akan terjebak
dengan kata lain gaulnya senjata makan tuan. Jangan coba – coba membayangkan
kaya dulu deh.
Mari kita katakan sekali lagi Stop Korupsi dan Suap di
Indonesia yang sudah merajarela ini. Memang hidup kita tanpa uang rasanya
sangat susah akan tetapi lebih halal hidup susah tanpa korupsi alias tanpa
menanggung dosa besar.
(Oleh Lilik Abdi Kusuma Wartawan Mearindo.com)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan