banner 728x90

Fenomena La Lina Diprediksi Singgahi Indonesia,

Mearindo-akarta – Fenomena La Nina atau
anomali cuaca berupa penurunan suhu di Samudra Pasifik mulai terdeteksi di
Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau warga
mengantisipasi banjir dan longsor.
“BMKG telah mendeteksi munculnya fenomena La Nina meskipun masih lemah
pada akhir Agustus 2016. Diprediksi La Nina bertahan hingga awal 2017,”
ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam
pesan singkat, Jumat (2/9/2016).
Fenomena La Nina di Indonesia ini terjadi setelah El Nino, namun kedunya
berbeda. La Nina menyebabkan curah hujan berlebihan sehingga menimbulkan banjir
dan longsor. Sebaliknya El Nino menyebabkan hujan berkurang sehingga kekeringan
panjang dan kemarau kering. El Nino terjadi hebat tahun 2015 di Indonesia yang
menyebabkan kebakaran hutan.
“Hampir 75 persen kejadian El Nino kemudian diikuti oleh La Nina di
tahun berikutnya. Tahun 2015 hingga awal 2016 terjadi El Nino kuat di wilayah
Indonesia, sehingga terjadi kebakaran hutan dan lahan yang hebat,”
ujarnya.
Menurut Sutopo, sejak Juli 2016 mulai ada indikasi akan terjadinya La Nina
sehingga terjadi musim kemarau basah. Artinya saat kemarau banyak hujan
sehingga banyak banjir dan longsor.
“Termasuk banjir di Kemang kemarin adalah banjir di musim
kemarau,” kata Sutopo.
Saat ini La Nina yang mulai terdeteksi akan memberikan dampak meningkatnya
curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia, yaitu Pulau Jawa, Sulawesi
bagian timur, Papua bagian tengah dan Kalimantan, serta Sumatera bagian
selatan. Diprediksi akan mengelamai kenaikan curah hujan hingga 200 persen.
“Bersamaan dengan La Nina terjadi, fenomena Dipole Mode negatif sejak
Mei 2016 yang diprediksi bertahan hingga November 2016, dan kondisi anomali
Suhu Muka Laut yang hangat di sekitar perairan Indonesia. Kondisi demikian akan
menyebabkan tingginya curah hujan di Sumatera dan Jawa bagian Barat,”
lanjut Sutopo.
Kombinasi antara La Nina, Dipole Mode, dan anomali suhu muka air laut yang
hangat, telah memberikan dampak signifikan meningkatnya bencana di Indonesia
saat ini. Sejak Januari-September, terdapat 1.495 kejadian bencana di Indonesia
yang menyebabkan 257 orang meninggal dunia, 2,86 juta orang menderita dan
mengungsi, dan ribuan rumah rusak. Lebih dari 95 persen dari bencana tersebut
adalah bencana hidrometeorologi yang dipengaruhi oleh cuaca.
Longsor adalah jenis bencana yang paling mematikan saat ini. Hingga 1
September terdapat 323 kejadian longsor yang menyebabkan 126 orang meninggal
dan 18.655 jiwa menderita dan mengungsi. Sedangkan banjir terdapat 535 kejadian
dengan dampak 70 orang meninggal dan 1,94 juta jiwa menderita dan mengungsi
akibat banjir.
Hal ini juga terjadi pada periode La Nina sebelumnya seperti tahun 2010 dan
2011. Indonesia mengalami curah hujan di atas normal, terutama di Pulau Jawa,
Maluku, Sulawesi, Sumatera bagian selatan, Kalimantan dan Papua yang
menyebabkan hujan lebat dan lebih tinggi daripada curah hujan normal. Selama
periode La Nina dengan intensitas sedang tersebut bencana banjir dan longsor
meningkat.
“Dibandingkan dengan kejadian bencana pada tahun 2015, jumlah korban
meninggal dan hilang pada tahun 2016 mengalami peningkatan 54 persen, dari 167
(2015) menjadi 257 (2016). Secara keseluruhan jumlah kerusakan 2016 mengalami
peningkatan dibandingkan 2015. Diprediksi dampak bencana 2016 akan terus
meningkat hingga akhir tahun nanti,” papar Sutopo.
Terjadi ketidakstabilan di permukaan Matahari…
Bintik Matahari adalaah granula-granulacembung kecil yang ditemukan di
bagian fotosfer Matahari dengan jumlah yang tak terhitung. Bintik Matahari
tercipta saat garis medan magnet Matahari menembus bagian fotosfer. Ukuran
bintik Matahari dapat lebih besar daripada Bumi. Bintik Matahari memiliki
daerah yang gelap bernama umbra, yang dikelilingi oleh daerah yang lebih terang
disebut penumbra. Warna bintik Matahari terlihat lebih gelap karena suhunya
yang jauh lebih rendah dari fotosfer.
Sebaliknya, meningkatnya curah hujan memberikan dampak positif yaitu
menurunnya jumlah kebakaran hutan dan lahan, dan kekeringan yaitu di daerah
Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian Selatan dan sebagian Kalimantan yang
biasanya kekeringan.
“Masyarakat diminta untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan
kewaspadaannya dari ancaman banjir dan longsor terkait adanya peningkatan curah
hujan,” kata Sutopo (miq/try/P.Lih)
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan