banner 728x90

Lacak Ijasah Palsu Pejabat Magetan Sampai Tenggarong

Mearindo.Kalimantan
Rusdi (62) diduga menggunakan ijazah palsu  untuk menjadi Kepalaanam lacak ijazahcweb Desa (Kades) Kuwonharjo, Magetan – Jawa Timur (Jatim), kasus pembohongan publik dan Negara ini dilaporkan Ormas Orang Indonesia (OI) Bersatu Jawa Timur diketuai Sifaul Anam ke Polda Jatim.
Untuk mendapatkan bukti ijazah Rusdi palsu, Sifaul Anam melacaknya hingga ke Tenggarong Seberang, Kamis (6/2) tadi. “Saya sengaja bertolak dari Surabaya ke Tenggarong Seberang guna mendapatkan bukti, padahal saya baru sekali ini ke Tenggarong Seberang – Kaltim,” kata Anam sapaan akrab Sifaul Anam hari itu.
Dalam laporan OI Bersatu, ijazah SMP Rusdi tertulis dari SLTP Negeri I Tenggarong Seberang-Teluk Dalam.
 Kedatanganya Anam ke Kalimatan Timur merupakan agenda membongkar dugaan penggunaan ijazah palsu atas nama Rusdi yang saat ini menjabat Kepala Desa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
OrmasOI Bersatu sebelumnya juga sudah  mengadukan Kasus dugaan ijazah palsu tersebut ke Polda Jawa Timur pada 11 Desember 2013 lalu dan kini dalam tahap penyelidikan.
Anam  menambahkan, bahwa berdasar bukti salinan ijazah atas nama Rusdi yang dikeluarkan pada Sekolah Menengah Umum Tingkat Pertama (SMP) Teluk Dalam Tenggarong Seberang, Kalimantan Timur yang diterbitkan pada 15 Mei 1981 dengan vide Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah tanggal 14 Nopember 1980 No.169a/C/Kep/I 80) yang memuat tanda tangan Subagdo sebagai kepala sekolah SMP tersebutbanyak ditemukan kejanggalan bila dibandingkan dengan ijazah-ijazah lain yang dikeluarkan SMPN I Tenggarong Seberang.
Bersumber dari ijazah tersebut Anam berani mengambil kesimpulan bahwa ijazah tersebut palsu, pasalnya anam menemukan kejanggalan dari bentuk fisiknya,  sesuai identitas Rusdi lahir pada tahun 1953 dan ijazah SMP yang dipakai ditanda tangani pada tahun 1981 sehingga pada tahun tersebut usia Rusdi adalah 28 tahun, namun foto yang dipasang pada ijasah tersebut adalah foto Rusdi saat berusia diatas 50 tahun.
“Ini foto orang berumur 50 tahun bukan 28 tahun, lantas bagaimana nasib rakyat jika pemimpinnya saja menggunakan cara kotor untuk meraih jabatan” ujar Anam,
Fatalnya lagi, lanjut anam, Subagdo yang tanda tanganya ada pada ijazahnya Rusdi pada tahun 1981 itu belum menjabat kepala sekolah, hal ini diperkuat dengan surat pernyataan dan keterangan yang dikeluarkan pihak SMP yang menyatakan bahwa SMP Teluk Dalam berdiri pada tahun 1981 dan saudara Subagdo baru diangkat menjadi kepala sekolah pada tahun 1983.
Disisi lain, Anam mengakui bahwa pengaduan terkait dugaan ijazah palsu ini dilayangkan jauh hari setelah proses Pilkades, hal ini disebabkan ia harus mencari bukti autentik dan ada tim yang melakukan investigasi ke SMP Teluk Dalam Tenggarong Seberang. Gugatan perkara inipun sudah dilaporkan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Surabaya pada tanggl 11 Desember 2013 lalu dengan nomer perkara : 235/G/2013/PYUN.Sby  dengan tergugat satu BPD Desa Kuwonharjo serta tergugat dua Bupati Magetan.
Sementara itu Kepala Sekolah SLTPN (SMPN) I Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara Dirjam, MS,S.Pd   menyatakan bahwa dirinya tidak tahu menahu siapa yang membuatkan ijazah tersebut, dan seandainya adapun oknum yang membuatkan ijazah tersebut mestinya sudah meninggal karena ijazah yang diduga aspal (asli tapi palsu) tersebut tertanggal 1981.
“Maaf saya tidak tahu asal mula ijazah yang atas nama Rusdi tersebut, kalaupun ada pihak yang membuatnya saya pikir sudah meninggal, kan itu ijazah dibuat 1980-an?” sanggah Dirjam.
Menanggapi komentar dari pihak sekolah, Anam menegaskan bahwa ia berkeyakinan ijazah yang diduga palsu tersebut dibuat sekitar tahun 2008, hal ini berdasarkan foto yang ditempel pada ijazah. Jadi pembuatan ijazah tersebut baru sekitar enam atau tujuh tahun lalu. “Rusdi itu lahir 1953, sedangkan foto yang ditempel lazimnya usia 55. Saya yakin ijazah itu dibuat sekitar 2008. Jadi kepala sekolah ndak usah berupaya melindungi siapapun jika nanti terbukti bersalah. Maka biarkan proses hukum berjalan nantinya” tegas Anam
Kasus dugaan ijazah palsu tersebut mencoreng nama baik pendidikan di Kutai Kartenegara sehingga perlu adanya tindakan tegas bagi siapapun yang terlibat. Ironisnya kepala sekolah SLTPN I Tenggarong Seberang cenderung berpangku tangan setelah mengetahui nama sekolahnya dikait-kaitkan dengan kasus dugaan ijaaah palsu. “Seharusnya jika memang menjaga nama baik tentunya pihak sekolah dapat melayangkan surat atau laporan pencemaran nama baik, bukannya saja,” ujar Anam menyarankan. #kony fahran
banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan