banner 728x90

Viral Harga di Sarangan Gepuk! Ini Langkah Pemkab Magetan

Gambar viral diberbagai platform sosial media sumber Fb @Rohmat Bekti Nugroho “Viral, Wisatawan Mengeluh dengan Mahalnya Makanan dan Toilet di Telaga Sarangan Magetan”

Magetan, Mearindo.com – Viral di media sosial, keluhan wisatawan soal harga makanan, minuman, hingga fasilitas umum di kawasan wisata Telaga Sarangan kembali mencuat. Kasus ini memantik sorotan publik sekaligus memunculkan desakan agar perlindungan konsumen di kawasan wisata diperketat. Pasalnya peristiwa serupa selalu terulang dan tak ada sanksi yang tegas.

Unggahan tersebut dibagikan oleh akun TikTok @Anameducator, yang memperlihatkan pengalaman pribadi saat berkunjung ke Telaga Sarangan. Dalam video itu, terlihat dua botol air mineral dan satu minuman kemasan kecil yang disebut dihargai hingga Rp44 ribu, jauh dari perkiraan awal pembeli.

“Semoga menjadi pembelajaran buat kita semua. Lebih baik tanya harga terlebih dahulu sebelum mengambil barang,” tulis @Anameducator dalam keterangan unggahannya.

Video itu sontak viral dan telah menuai ratusan komentar warganet. Banyak yang menilai praktik penetapan harga tersebut merugikan konsumen, terlebih wisatawan yang baru pertama kali datang.

1. Dibandingkan minimarket, selisih harga dinilai tak masuk akal

Sejumlah warganet membandingkan harga di Sarangan dengan harga di toko ritel modern.

“Susu Ultra Milk kecil di Indo/Alfa satuannya sekitar Rp6 ribuan, di situ bisa jadi Rp10 ribu,” tulis akun pownie.

Komentar lain menyarankan wisatawan untuk membeli kebutuhan di luar kawasan wisata.

“Wes bener tumbas ning Indomaret ae,” tulis akun momtobe.

2. Biaya Toilet Umum Ikut Dipersoalkan

Tak hanya soal minuman, biaya toilet umum juga menjadi perhatian. Seorang warganet mengaku diminta membayar Rp5 ribu hanya untuk buang air kecil, jauh di atas tarif yang biasa ia temui.

“Biasanya Rp2 ribu, pas dikasih Rp2 ribu dibilang Rp5 ribu mbak kalau pipis aja,” tulis akun MamaHafiz.

Keluhan-keluhan ini dinilai mencerminkan lemahnya pengawasan harga dan transparansi layanan di kawasan wisata.

3. Perlindungan konsumen dinilai lemah di kawasan wisata

Kasus viral ini kembali membuka diskusi soal perlindungan konsumen di destinasi wisata, terutama saat musim liburan. Warganet menilai wisatawan berada pada posisi lemah karena minim informasi harga dan tidak adanya daftar harga yang jelas.

Beberapa komentar bahkan menyebut pengalaman tersebut membuat mereka enggan kembali ke Sarangan.

“Emang mahal semua makanan Sarangan, jadinya males ke sana,” tulis akun Nadifa.

4. Dorongan transparansi harga dan pengawasan

Warganet berharap pengelola wisata dan pemerintah daerah turun tangan, mulai dari kewajiban pemasangan daftar harga, penertiban tarif fasilitas umum, hingga pengawasan terhadap praktik dagang yang berpotensi merugikan konsumen.

Telaga Sarangan selama ini dikenal sebagai ikon wisata Jawa Timur. Namun, publik menilai keindahan alam saja tak cukup jika tidak diiringi dengan rasa aman dan adil bagi wisatawan sebagai konsumen.

Yang terbaru, sebuah unggahan di medsos yang di unggah akun E koran Delta menyebut bahwa harga makanan di Telaga Sarangan membuat isi dompet adem panas.

“Bayangno, nota sing di upload nggambarne rego jehe susu wae sampek nembus angka sing gak nalar, total jendrale mggawe mripat mendele dadi Rp 500 ewu luwih,” ujarnya.

Yang lebih mencolok, sebuah gambar nota dengan tulisan “SARANGAN LARANG REK!, NYEPUK WEDANG KOYO NYEPUK EMAS, CAK!”

Kepala Bidang Pariwisata Budpar Magetan Eka Raditya saat dikonfirmasi soal tarif nggepuk ini mengaku sudah membuat surat edaran ke pelaku usaha terkait harga. Sebagaimana di nomer 4, agar pelaku usaha memberikan harga yang wajar kepada wisatawan dan mencantumkan daftar barang berserta harganya.

“Kami juga sudah membuat panduan untuk membeli makanan dan minuman di tempat wisata. Mungkin bisa dibantu untuk disebarluaskan melalui https://www.instagram.com/p/DH94mdjSiQM/?img_index=2&igsh=N29uZmY5Y24wOGN3,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, pembeli harusnya juga bijak. Kalau harga tidak sesuai atau di luar batas kewajaran tidak usah dibeli. Jadi memang wajib menanyakan harga terlebih dahulu.

“Tapi ini sebagai bahan evaluasi kami. Memang harga di tempat wisata terkadang lebih mahal dibanding harga di tempat umum, tapi tentu harus wajar dan tdk boleh melampaui batas kepatutan,” tutupnya. (G.Tik)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan