banner 728x90

Petani Merugi Akibat Tak Peduli Pupuk Kimia Rusak Kesuburan Tanah

Penggunaan Pupuk Kompos/Organik, Padahal manfaat pupuk
berimbang cukup besar, terutama mengembalikan kesuburan petani, Senin(6/2/2017)
Magetan Mearindo.com – Petani hingga kini masih
terfokus menggunakan pupuk kimia sebagai penyubur tanaman. Padahal penggunaan
pupuk kimia yang berlebihan bukan hanya berdampak buruk pada kesuburan tanah,
tapi berpengaruh terdapat produksi dan produktivitas tanaman.
Kondisi yang terjadi di lapanan tersebut
menurut penilaian Ketua Ormas Orang Indonesia Kabupaten Magetan Saiful Anam, mengatakan
sudah berlangsung sejak lama. Petani kerap terpaksa melakukan sesuatu di luar
kebiasaannya. Misalnya, saat pemerintah ingin menggenjot produksi pangan,
petani pun didorong menggunakan pupuk urea. Hal tersebut berlangsung
terus-menerus, sehingga petani akhirnya tergantung dengan pupuk kimia.
“Setelah diketahui pemakaian pupuk urea
berlebihan bisa merusak kesuburan tanah, petani mulai diarahkan menggunakan
pupuk berimbang (NPK). Tapi petani kurang memahami caranya,”kata Anam Pria yang
rambutnya gondrong ini kepada Mearindo.com, Senin (6/2/2017)
Kementerian Pertanian dan sejumlah perguruan
tinggi sebenarnya sudah melakukan penelitian pentingnya penggunaan pupuk berimbang.
Sayangnya, di lapangan banyak petani yang belum paham mengenai hal itu. Anam mengatakan,
pemerintah meningkatkan sosialisasi penggunaan pupuk berimbang melalui
penyuluh. “Ini agar petani tak salah memahami penggunaannya,”katanya.
Anam menyoroti banyaknya salah kaprah petani
dalam penggunaan pupuk. Misalnya, jika suatu daerah tanahnya sudah mempunyai
kandungan P atau K yang tinggi harusnya yang diperlukan hanya pupuk P dan K
yang dosis lebih rendah.
“Inilah yang harusnya menjadi tugas penyuluh
untuk menularkan pentingnya penggunaan pupuk berimbang yang benar ke petani.
Jangan sampai petani salah pengertian kalau pupuk berimbang itu adalah NPK,”
katanya.
Untuk memberikan pengertian kepada petani,
Anam menyatakan, tugas penyuluh lah yang menyampaikan ke petani agar mulai mengurangi
takaran atau dosis penggunaan pupuk kimia. Selanjutnya secara perlahan mulai
mengganti dengan pupuk kompos atau pupuk dari kotoran ternak. Apalagi banyak
contoh kawasan pertanian yang kesuburan tanahnya mulai berkurang.
Tanah yang kesuburannya berkurang bisa
ditengarai saat musim kemarau rekahan tanahnya lebar dan panjang. Tanah sekitar
rekahan berwarna agak keputihan. “Tanah semacam ini perlu pemulihan, karena
sudah tidak subur lagi,”katanya. Bagaimana caranya? Anam mengatakan, dengan
memanfaatkan pupuk kandang (kotoran hewan) dan kompos.
Namun jika petani belum sepenuhnya
memanfaatkan pupuk kandang Anam meminta penyuluh mengajari petani mengurangi
penggunaan pupuk kimia. Pengurangan jumlah atau takaran penggunaan pupuk kimia
kini sudah mulai dilakukan sejumlah petani di Kabupaten tetangga sepeti Nganjuk
dan Madiun.
Selain itu Anam juga meminta pemerintah lebih
menggiatkan penggunaan pupuk berimbang, tapi konsepnya harus jelas agar jangan
salah pengertian di petani. “Dulu petani dianjurkan memakai Urea, Za dan SP.
Nah, sekarang dianjurkan menggunakan pupuk majemuk atau berimbang. Tentunya,
anjuran itu harus didukung konsep yang jelas,”katanya.
Anam menilai, penggunaan pupuk berimbang
bukan hanya membuat tanah lebih subur dan bagus, tapi hasil tanaman yang diproduksi
pun jauh lebih sehat. Minimal reduksi dari produk tanaman yang dihasilkan
berkurang dibanding menggunakan pupuk kimia.
Lebih lanjut, Anam juga mendesak pemerintah
agar melakukan pengendalian peredaran pupuk kimia di masyarakat. Sebab, ada
sejumlah daerah yang menggunakan pupuk kimia dalam jumlah berlebih, seperti di
kawasan Karangmojo, Kartoharjo, Takeran dan sekitarnya.
“Selama ini alasan petani menggunakan pupuk
kimia dalam jumlah banyak, karena petani menilai dengan pupuk kimia yang banyak,
produksinya juga banyak,”tuturnya.
Sementara Galih anggota Ormas OI mengakui,
banyak lahan sawah yang sakit karena sering petani menggunakan pupuk urea lebih
dari dosis yang dianjurkan atau over dosis.
“Ada kecenderungan petani jika tanaman padi
belum hijau itu belum puas, sehingga digenjotlah penggunaan urea secara
berlebihan,” katanya.
Tidak hanya itu, lanjut Galih, petani
beranggapan jika kekurangan urea, maka anakan tanaman padinya akan berkurang.
Karena itu petani yang berada di daerah
dataran rendah, tepatnya Kartoharjo, Karangmojo, Barat dan Takeran sekitarnya
kini diarahkan menggunakan pupuk berimbang. Yakni, menggunakan pupuk organik
500kg/ha, urea 250 kg/ha, Za 100kg/ha, TSP 100kg/ha dan NPK 200 kg/ha.
Namun menurut Galih, belum semua petani mau
menerapkan pupuk berimbang tersebut. “Kami sebagai Ormas yang peduli dengan
pertanian dan lingkungan hidup terus berusaha meyakinkan petani menerapkannya.
Setelah semunya menerapkan, penggunaan pupuk kimia dapat dikurangi. Pada akhirnya
akan lebih mengarah kepada pupuk organik,”tuturnya.
Sebenarnya, target utama yang ingin kami
capai bukan sekedar pupuk berimbang, melainkan pertanian yang go organic.
Pasalnya, konsep pertanian ini dapat mengurangi hama dan penyakit. Tidak hanya
itu, hasil akhir yang dicapai pun lebih baik, sehingga sangat aman untuk
dikonsumsi.
Galih menambahkan, dengan pertanian go organic tanah-tanah
pertanian di Indonesia yang sebagian rusak dapat diperbaiki. Sekarang unsur N
dalam tanah sangat banyak, sehingga dapat dikatakan lahan sawah banyak yang
sakit. “Karena itu ke depannya, kami akan menerapkan pertanian go organic,”
ujarnya. (lak)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan