banner 728x90

Petunjuk Agama bagi Pemuda Idaman

Gus ArifJawatimur – Magetan – Mearindo – Kisah Nabi Ibrahim di masa remaja adalah teladan bagi para pemuda idaman jelas terukir dalam Firman Nya yang artinya, “Mereka menjawab, “Kami mendengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini, yang bernama Ibrahim”. QS Al-Anbiya ayat 60.

Kisah lain teladan para pemuda gua tentu kisah tersebut tidak asing di ingatan kita yaitu pemuda – pemuda (ashabul kahfi) yang terkenal kokoh iman dan teguh pendirian dalam memegang prinsip kebenaran. Allah SWT pun menyanjungnya dalam kalam Nya yang artinya, “Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah para pemuda yang beriman kepada Tuhannya, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka”. QS Al-Kahfi ayat 13.

“Rasulullah SAW memberikan jaminan keselamatan di hari akhirat kelak. Antara lain kepada pemuda yang menghabiskan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah SWT, pemuda yang gemar melakukan aktivitas ibadah di masjid, dan pemuda yang sanggup menahan gejolak nafsunya manakala berhadapan dengan godaan syahwat perzinaan.”

Mengingat betapa besar sumber daya potensi sekaligus emosi yang dimiliki pemuda, maka sepantasnyalah segenap masyarakat membimbing mereka agar menjadi pemuda idaman yang mulia menurut pandangan Allah SWT.

Pimpinan Pesantren Pedang Songo Dusun Joso, Desa Turi, Panekan, Magetan, Agus Syamsul Ma’arif menyampaikan, tiga kunci sukses pemuda idaman dalam menghadapi perubahan dunia yang begitu cepat saat ini. Tiga hal tersebut yaitu ilmu pengetahuan, pergaulan atau jaringan, dan pengalaman.

“Kunci sukses teruntuk generasi muda saat ini pertama ilmu, pergaulan, dan pengalaman,” katanya saat ditemui Mearindo.com di sela kegiatan mengajar di Pesantren Pedang Songo Joso, Turi, Panekan, Kamis (25/11/2021)

Ia memaparkan, “dengan ilmu pengetahuan maka akan lahir sebuah pola pikir atau mindset yang berbeda dalam memandang sesuatu. Jika ilmunya banyak maka akan membuat pola pikir pemuda itu maju.”

Gus Arif mencontohkan, seorang yang ilmunya terbatas, maka keinginannya juga terbatas. Semisal anak kecil yang hanya menginginkan uang seribu untuk membeli jajan. Dalam pikirannya yang penting itu adalah jajan, bukan haji, umrah, sedekah atau mendirikan madrasah. Begitu juga bagi masyarakat yang setiap hari bekerja untuk makan hari ini, maka yang diberikan Allah sesuai kapasitas ilmu dan prioritasnya.

“Allah itu memberikan sesuai dengan ilmu dan prioritas kita. Agar pemberian Allah itu tidak sia-sia. Anak kecil dikasih uang satu juta pasti bingung buat apa. Coba kalau ditangan yang tepat maka akan dibuat mendirikan madrasah dan membantu sesama yang membutuhkan,” tegas Gus Arif

Alumni Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri ini lebih lanjut menjelaskan, ilmu yang mumpuni harus ditopang dengan pergaulan yang luas. Hal ini supaya ilmu tersebut memiliki kemanfaatan yang lebih banyak. Selain itu, pergaulan yang luas juga akan membuka wawasan baru dan cara pandang baru terhadap suatu masalah.

“Dalam ajaran Islam anjuran untuk bergaul luas ini diistilahken dengan silaturahim. Dalam silaturahim seorang hamba akan mendapatkan rezeki yang banyak. Rezeki bisa berupa ilmu, kesehatan dan harta. Dan kunci silaturahim bisa sukses yakni tidak mendahulukan pikiran jelek kepada seseorang,”

Disebutkan, di antara tips jadi orang sukses yaitu, “mendekatkan diri pada Allah, menolong agamanya Allah, dan banyak menolong orang lain.”

“Jangan berburuk sangka tentang orang lain saat dikecewakan. Mungkin itu cara Allah menguji kita. Tidak boleh juga pelit kepada sekitar. Orang yang suka memberi manusia lain, maka hidupnya ditanggung Allah. Maka perbanyaklah silaturahim.”

Kunci sukses yang ketiga yaitu pengalaman. Generasi muda Idaman harus kreatif dan inovatif dalam bidang yang digelutinya. Dari proses tersebut maka akan melahirkan pengalaman baru yang terkadang tidak ditemukan di bangku kuliah atau saat ngaji di pesantren.

“Inovatif harus ada dalam usia emas, kira-kira di bawah umur 50 tahun. Kalau 50 tahun ke atas itu biasanya ada penurunan beberapa fungsi anggota tubuh. Jadi guru harus kreatif, jadi pengusaha apa lagi. Kalau tidak kreatif maka akan dilindas zaman,”

Gus Arif menambahkan, untuk mendapat pikiran kreatif maka seseorang harus membaca yang banyak. Membaca di sini diartikan membaca keadaan sekitar dan baca buku. Ini sesuai dengan wahyu pertama yang diturunkan Allah yang berbunyi “Iqra”.

Namun kebanyakan manusia dewasa ini malas membaca sehingga timbul sikap cuek. Terkadang ada yang mau membaca tapi malas memikirkan hasil bacaannya. Padahal ideal nya, setelah baca lalu pikirkan dan kemudian diterapkan. “Baca, pikirkan, dan terapkan atau amati, tiru, moditifikasi.” tutup Gus Arif (G.Tik)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan