banner 728x90

Keluarga Adalah Madrasah Pertama Bagi Anak

Jawatimur – Magetan – Mearindo – Anak merupakan amanah yang dikaruniakan oleh Allah kepada orang tua yang harus dipertanggung-jawabkan di akhirat. Oleh karenanya setiap orangtua wajib membesarkan, merawat serta mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang yang di dasari rasa tanggung jawab.

Dalam Al-Qur’an digambarkan bahwa anak merupakan penyejuk pandangan mata (qurrata a’yun), sumber kebahagiaan serta belahan hati manusia di dunia. tutur Hanif Ikhsani, Mpd (Kabid Dakwah PDPM Magetan) saat ditemui Mearindo.com, Selasa (23/11/2021)

“Keberadaan anak dalam sebuah keluarga menjadikan keluarga itu terasa hidup, harmonis sehingga menjadikan hidup lebih bermakna. Sebaliknya, ketiadaan anak dalam keluarga bisa menjadikan keluarga tanpa arti bila meminjam istilah Al-Hasyimy.” terangnya

Dilain sisi, Hanif melanjutkan, keluarga menjadi kunci yang akan membuka pengetahuan anak terhadap dunia yang berada diluar dari dirinya. Tugas mendidik adalah salah satu kewajiban keluarga/orangtua terhadap anak-anaknya.

Di abad modern ini, masih banyak orangtua beranggapan bahwa, apabila mereka memasukan anaknya kedalam lembaga pendidikan yang boleh dianggap berkualitas, seakan dapat dipastikan bahwa anaknya kelak akan menjadi sosok yang baik secara kepribadian dan pikiran, kemudian tugas orang tua cukup memenuhi biaya pendidikan sementara pada giliran berikutnya berada pada posisi menunggu hasil yang akan di cetak oleh lembaga pendidikan terhadap anaknya kelak.

“Pilihan semacam itu tentu bukan tanpa alasan, melainkan karena para orang tua beranggapan tugas mendidik semata hanya bisa dilakukan oleh sekolah/lembaga pendidikan saja. Lebih khusus berkaitan dengan pembekalan ilmu-ilmu yang tersusun dalam mata pelajaran yang tersistematis yang sangat diyakini oleh sebagian orang tua tidak akan mampu menyampaikannya kepada anak secara langsung.”

Namun demikian, perlu disadari bahwa pendidikan adalah proses memberdayakan akal pikiran serta hati manusia. Pendidikan tidak hanya mengembangkan aspek intelegensi semata, sementara mengabaikan potensi manusia yang lainnya.

Oleh karenanya di dalam Islam, potensi akal di didik agar tumbuh kesadaran serta nalar kritis sehingga mampu menemukan logika yang benar dalam berpikir. Hati di bimbing serta diarahkan, agar tumbuh motivasi yang mendorong individu supaya mampu menempatkan diri menjadi hamba sekaligus manusia yang baik terhadap sesama.

Dirumah, waktu terbanyak yang dimiliki oleh anak adalah bersama orang tua mereka, dibandingkan dengan sekolah tentu orang tua memiliki kuasa penuh terhadap anak-anaknya. Peran penting orang tua bagi anaknya yang berusia belia ialah harus mampu membawa diri menjadi role model (teladan) nyata yang baik bagi mereka. Dari usaha tersebut maka orangtua akan memaknai keturunan tidak sebatas mirip secara fisik dan lahiriah sebagaimana pandangan umum, namun lebih daripada itu keturunan berarti menjadikan anak paling tidak hampir mirip dengan perilaku santun orang tuanya.

“Sebab, apa yang dicupakan orangtua itu juga di tuturkan oleh anaknya, perangai orangtua yang menjadi perangai anaknya pula. Dengan kata lain, karakter, semangat hidup, daya tahan, amarah dan seterusnya yang ditunjukan anak adalah pantulan atas apa yang orang tua tunjukan dihadapan anaknya. Sehingga berlaku kata pepatah, buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.”

Inilah yang di tekankan oleh Hurlock dalam mewujudkan pola asuh orang tua terhadap anaknya.
Semantara itu, tugas paling mendasar orang tua dalam mendidik anak yang mulai berkembang akal pikirannya adalah memberikan pengetahuan perilaku abstrak kepadanya. Dimana perilaku tersebut yang berlaku dalam lingkungan masyarakat.

“Artinya bahwa orang tua berkewajiban mengenalkan konsep perilaku baik-buruk kepada anak-anaknya. Hal ini menjadi penting karena sekolah/lembaga pendidikan boleh jadi tidak sampai kepada hal yang detail dan tidak mudah ditemukan karena jauh dari jaungkauan pengamatannya.”

Disamping itu, konsep baik-buruk tersebut harus menjadi respon yang segera diberikan ketika anak menemui sebuah realita yang tidak mudah dipahami bagi akal pikirannya. Misalnya saja, bila ditemukan kasus pernikahan setelah kehamilan yang terjadi dimasyarakat. Bagi seorang anak tentu tidak mudah memahami hal yang paradoks seperti ini.

“Memahami sebuah peristiwa yang diperintahkan agama, namun didahului dengan perbuatan melanggar larangan agama. Salah-salah yang akan berkembang dalam pemikirannya adalah melazimkan hal serupa.”

Kejadian semacam itu mungkin saja tidak dianggap sebagai perbuatan nir akhlak bagi masyarakat yang tidak menjadikan kesadaran moral dan religius sebagai standar dalam menjalani interaksi sosial. Akan tetapi bagi orang tua, tentu menimbulkan kekhawatiran bila pembenaran terhadap hal yang menyimpang terhadap ajaran agama tersebut hinggap dipikiran anak-anaknya.

“Lebih parah lagi, bila anggota masyarakat melazimkan praktik perilaku yang demikian, maka sebuah masyarakat yang sakit sedang berjalan menuju kuburan agama dan moral. Disinilah letak pentingnya orang tua mengambil peran sebagai madrasah pertama bagi anak-anknya yang memenuhi fungsi sebagai rambu-rambu perilaku dalam hidup.” tutup Hanif (G.Tik)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan