banner 728x90

Haul Syuhada Monumen Soco, Masyarakat Anti Komunis Berikrar Dan Bakar Bendera PKI

“2030 kemungkinan akan lahir ribuan anak dengan darah campuran Komunis dan pribumi ….”  Anam OI Bersatu

Mearindo.com – Sekitar 500 orang hadir dalam acara “Haul Syuhada Korban Kekejaman PKI 1948” di Monumen Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan pada Senin malam, 30 September 2019.

Disampaikan Khoirul Anam bahwasanya Kegiatan peringatan Kekejaman PKI di Sumur Desa Soco yang dijadikan tempat kuburan masal 108 Syuhada tersebut merupakan kegiatan tahunan setiap tanggal 30 September malam yang dipelopori oleh Yayasan Pendidikan Islam Pesantren Salafiyah Cokrokertopati, Takeran, Magetan. Dan untuk Haul Syuhada kali ini dilakukan pula bhakti sosial donor darah.

Haul Syuhada yang dihadiri Bupati Magetan, Suprawoto didampingi Kepala Bakesbangpol Linmas Iswahyudi, Kapolres Magetan, Kasdim Kodim 08/04 Magetan, Ketua DPRD Magetan Sujatno, beserta jajaran Forkopimca Bendo diawali dengan Tahlil dan Doa yang dipimpin pengasuh YPI Pesantren Cokrokertopati, KH. Zuhdi Tafsir.

Bupati Magetan, Suprawoto dalam sambutannya mengatakan bahwa idiologi komunis yang pernah tumbuh di negara Indonesia benar – benar bertentangan dengan dasar dan idiologi bangsa yakni Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Dan komunis merupakan kenangan sejarah kelam yang memecah belah persatuan antar anak bangsa Indonesia sendiri.

“Bangsa dibentuk diatas keanekaragaman dan perbedaan. Namun dari Kebhinnekaan ini telah disepakati bahwa faham dan idiologi yang bertentangan dengan Pancasila serta Undang undang Dasar 1945 tidak dapat diterima”, kata Suprawoto

Sementara itu, pada kesempatan Haul Syuhada monumen Soco, Forkopimda juga menyatakan dukungan Anti faham komunis yang disampaikan secara bersama oleh Bupati Magetan, Ketua DPRD Magetan, Kapolres Magetan dan perwakilan Kodim 08/04 Magetan.

Pernyataan dukungan Anti dan menolak faham komunis itu disampaikan dihadapan Masyarakat Anti Komunis dan pengurus/ anggota organisasi serta perkumpulan yang hadir diantaranya : Fron Anti Komunis (FAK), Cokrokertopati, Persaudaraan Insan Taukid, Brigade Ormas Orang Indonesia Bersatu, Pusat Tenaga Dalam Sintek Sajail, Majlis Dzikir Laduni ‘ilma, PKBM Al Musthofa, BPK OI Magetan, Pasukan Elit Condromowo, Padepokan Djagad Keramat, Jam’ iyah Riyadlul Jannah, Jam’iyah Kinandang, Paguyuban Wong Magetan.

Orasi refleksi anti komunis disampaikan Syifaul Anam dari Brigade Ormas Orang Indonesia Bersatu didampingi tokoh masyarakat anti komunis : Agus (FAK), Wagimoen (GUIB) salah satu pendiri FAK, Chandra (PWM), Zainal Arifin (Sintek Sajail), Ahmad Zahni (Riyadl Jannah), Imam Yudianto (GUIB).

Syifaul Anam atau lebih dikenal dengan Anam OI menyebutkan bahwasanya sampai ditahun 2019 ini Simpatisan komunis masih melakukan pergerakan bertujuan memenuhi sejumlah tuntutan kepada pemerintah Republik Indonesia. Anam mengungkapkan adanya organisasi resmi berbadan hukum yang selama ini mendampingi Simpatisan komunis dalam melakukan langkah langkah strategi agar Tuntutanya dikabulkan.

“Sampai ditahun 2019 bulan juni bertema di Surabaya, diketahui ada pertemuan internal (berisikan Simpatisan komunis) dan membahas langkah strategi agar tuntutan mereka dikabulkan, diantaranya mereka menuntut : kompensasi dana bagi kluarga Eks PKI, Rehabilitasi nama baik, Pemerintah meminta maaf kepada PKI, Pendataan kuburan masal PKI dan didirikan Tugu Monumen, Simpatisan Komunis, Korban 65/66 (Eks PKI) dinyatakan sebagai korban kejahatan.”

Persebaran idiologi Komunis, Anam OI Bersatu juga menambahkan bahaya faham komunis sudah sangat dekat dengan masuknya ribuan lebih Tenaga Kerja Asing (TKA) berideologi komunis ke negara Indonesia. Anam OI memprediksikan ribuan TKA berideologi komunis yang tinggal di Negara ini dalam waktu 5 Tahun kedepan akan mampu membeli tanah tanah milik pribumi untuk dijadikan perumahan dan menikah dengan wanita wanita pribumi yang lemah jiwa nasionalismenya.

” 2030 kemungkinan akan lahir ribuan anak dengan darah campuran Komunis dan pribumi. Sebab anak yang akan lahir adalah percampuran dari pernikahan TKA ilegal beridiologi komunis yang masuk ke Indonesia dengan jumlah bisa mencapai ribuan selama dekade ini dengan wanita pribumi yang lemah nasionalisme nya. Dan dapat dipastikan anak dari bapak yang komunis akan mengikuti idiologi sang bapaknya.” terang Anam OI

Selanjutnya, KH Zuhdi Tafsir membacakan Ikrar masyarakat anti komunis dan diikuti oleh seluruh masyarakat anti komunis yang hadir dalam acara tersebut. Dalam penutupan Ikrar bersama dengan teriakan Takbir ” Allahu Akbar” sebanyak tiga kali bersamaan dengan dibakarnya bendera PKI.

IKRAR MASYARAKAT ANTI KOMUNIS

Syahadat 1x
Istighfar 3x
Ta’ngawudz
Basmallah

Kami Masyarakat Anti Komunis

  1. Akan senantiasa Berpegang teguh pada akidah, ajaran, nilai, Islam, Ahlussunnah wal Jama’ah
  2. Akan senantiasa Bertanah air satu, tanah air Indonesia beriideologi negara satu, ideologi Pancasila; Berkonsitusi satu, Undang-Undang Dasar 1945; Serta menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika
  3. Akan senantiasa turut menjadi benteng bangsa Indonesia dari tumbuhnya faham – faham komunis, faham – faham radikalis dan faham – faham yang bertentangan dengan idiologi bangsa dan agama
  4. Akan senantiasa menjadi bagian penyebar, menumbuh kembangkan, nasionalisme, merawat Ukhuwah Islamiyyah, Ukhuwah Wathoniyyah, dan Ukhuwah Insaniyyah. 
  5. Akan Siap Sedia, turut menjadi bagian, Membela Bangsa Indonesia, dalam menghadapi bahaya dan acaman faham komunis.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Monumen SOCO, Gerbong Kereta KERTOPATI menjadi saksi bisu atas 108 Nyawa Syahid Oleh Keganasan PKI Pada Tahun 1948 Dalam Pemberontakan Upaya Mendirikan Soviet Republik Indonesia. Ketidak manusiawian PKI menjadikan Sumur SOCO Sebagai Makam Tunggal 108 Para Syuhada yang kini dikenal dengan MONUMEN SOCO

Sebanyak 108 orang terdiri dari ulama, tokoh pemuda dan tokoh masyarakat meninggal dunia dalam tragedi pemberontakan PKI tahun 1948 Madiun yang hendak mendirikan Soviet Republik Indonesia dibawah pimpinan MUSO.

Sebelumnya Para Korban diangkut dan disiksa di dalam gerbong kertapati di pabrik gula Redjo Sari Gorang-Gareng  lalu diangkut dan dikubur di sumur soco yang kemudian diatasnya dibangun prasasti Tugu Monumen SOCO. (Gesang)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan

nine − seven =