banner 728x90

Lagi! Masyarakat Magetan Bantukan Seragam Anak Korban Bencana Selat Sunda Melalui TIDAR ERMe

Relawan TIDAR ERME saat penyerahan bantuan ke MI Darussalam bersama Kepala Sekolah, Guru dan Murid MI Darussalam Sukaraja Rajabasa Lamsel

Lampung Selatan, Mearindo.com – Masyarakat Magetan yang peduli terhadap dampak tsunami Selat Sunda kembali menyalurkan bantuan berupa seragam sekolah Pramuka dan Alat Tulis. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 136 Murid MI Darussalam yang terletak di Jl. Pesisir Desa Sukaraja, Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan. (23/03/2019)

Bantuan seragam dan alat pendidikan tersebut disalurkan dan diserahkan oleh Syifaul Anam, S. PdI selaku perwakilan relawan kemanusiaan TIDAR ERME (Tim Darurat – Emergency Response Mearindo) kepada pihak Kepala Sekolah dan guru MI Darussalam pada Jum’at, 22 Maret 2019.

Penyerahan bantuan yang dihimpun dari masyarakat Magetan yang peduli terhadap korban bencana alam Selat Sunda itu dilakukan di sekolah darurat MI Darussalam yakni satu rumah milik warga yang tidak ditempati dan dipinjam pakai untuk dijadikan ruang kelas sementara sampai ada perbaikan gedung sekolah yang rusak akibat gelombang tsunami.

Di dalam ruang kelas darurat rumah milik warga ini juga berkondisi tidak lebih baik dari sebelumnya. Hal ini lantaran masing masing kelas menempati ruang yang cukup sempit yakni untuk kelas 4, 5 dan kelas 6 menempati ruang ukuran 3 x 4 meter. Sedangkan kelas 1, 2 dan 3 harus rela ditempatkan di teras halaman rumah.


Cepnuh, M.PdI selaku Kepala Sekolah MI Darussalam mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Magetan yang sudah ikut memikirkan masa depan anak anak korban bencana alam melalui Posko TIDAR ERME yang sudah dua kali menyalurkan bantuan secara langsung ke anak didiknya.

“Ini kedua kalinya relawan TIDAR ERMe menyalurkan bantuan ke sekolahan darurat kami. Kami semua mewakili keluarga besar MI Darussalam mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat Magetan Jawa Timur yang peduli pada pendidikan anak kami sebagai salah satu sekolahan terdampak tsunami dan merupakan sekolah swasta,” ucap Cepnuh.

Selain pasrah dengan keadaan sekolah di dalam satu unit rumah, Cepnuh dan pada guru lainya tetap berupaya untuk menjadikan keadaan serba terbatas itu menjadi nyaman demi keberlangsungan pendidikan murid-muridnya. Sedangkan untuk waktu ujian semesteran bulan ini masuknya murid dilakukan dengan sistem bergilir atau Rolling waktu karena tempat yang tidak memungkinkan untuk dilakukan jadwal masuk bersama.

“Mau bagaimana lagi keadaan sekolahan tidak mungkin digunakan lagi sebelum perbaikan sedangkan proses pendidikan harus tetap berjalan agar anak anak tidak ketinggalan mata pelajaran,” ratap Cepnuh.

Klas VI MI Darussalam saat ujian semester disekolah sementara

Sedangkan Anam dari Relawan Kemanusiaan TIDAR-ERMe mengatakan pihaknya hanya menjadi perantara sebagai penyalur bantuan akan menyampaikan apa yang sudah diamankan masyarakat melalui Posko Jaringan Relawan Magetan.

” Dampak bencana di Indonesia baik bencana Lombok, Palu, Sigi, Donggala juga Selat Sunda ini benar benar kejadian yang estafet sehingga hampir semua wilayah belum begitu pulih keadaan baik psikologis maupun insfrastruktur dan perekonomian. Sehingga peran semua masyarakat sangatlah membantu bagi proses pemulihan pasca bencana asalkan disalurkan dengan benar dan tepat,” kata Anam.

Lampung Selatan, Bencana tsunami akibat erupsi Krakatau yang menerjang lima kabupaten di sekitar Selat Sunda Desember 2018 lalu hingga mengakibatkan lebih dari 437 orang meninggal dunia, kini masih juga menyisakan penderitaan masyarakat yang terkena dampaknya.

Bencana tsunami Selat Sunda yang terjadi akhir 2019 lalu selain mengakibatkan ratusan orang meninggal dunia juga lebih 9.061 orang mengalami luka dan puluhan orang hilang serta 16.198 orang mengungsi. (Gesang)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan