banner 728x90

KPAI Sesalkan Guru Asyik Nonton Film Porno Saat Ngajar Di Kelas

Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan

Jakarta, Mearindo.com – Beredarnya sebuah video seorang oknum guru yang tak patut ditiru dan mencemarkan nama dunia pendidikan Indonesia lantaran ketahuan asyik menonton film porno di dalam kelas ketika sedang mengajar. Parahnya lagi, oknum guru ini tidak sadar tayangan tak senonoh itu tayang di layar besar proyektor yang terhubung dengan laptopnya. Dan aksi tidak terpujinya itu diabadikan dengan handphone salah satu muridnya.

Dalam video itu terdengar para siswi menjerit histeris sambil memukul-mukul meja sebagai reaksi keterkejutan mereka. “Aduh Bapak. Oh my God, bapak. Jangan gitu. Oknum guru tersebut tampak hanya tersenyum-senyum. Kemudian ada seorang siswa menghampirinya sambil menunjuk video porno di proyektor tersebut. Video tersebut merupakan unggahan akun Instagram @infia_fact.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menerima pengaduan dari masyarakat melalui aplikasi whatsApp terkait dengan kasus guru menonton video porno di kelas, KPAI sangat menyesalkan kejadian itu.

Disampaikan oleh Retno Listyarti, Komisioner KPAI Bidang Pendidikan kepada media Mearindo.com bahwasanya KPAI menegaskan menyesalkan perilaku guru yang sangat tidak patut dan telah memberikan contoh buruk bagi para siswanya. Bagaimana mau menyadarkan anak tentang bahaya pornografi yang saat ini begitu marak, ketika si pendidik sendiri justru kecanduan pornografi.

Sementara itu lantaran belum diketahui di sekolah mana atau kapan kejadian ini berlangsung, maka KPAI akan segera berkoordinasi dengan Kemeninfo yang memiliki alat untuk mendeteksi di mana dan kapan video tersebut dibuat.

“Jika lokasi sekolah tersebut sudah diketahui, maka KPAI mendorong pihak sekolah dan Dinas Pendidikan setempat untuk melakukan proses pemeriksaan terhadap guru yang bersangkutan, karena yang bersangkutan abai atau lalai saat mengajar di kelasnya sehingga mengakibatkan peserta didiknya sempat menyaksikan film yang mengandung konten pornografi tersebut.” kata Retno Listyarti

Selain itu Komisioner KPAI Bidang Pendidikan juga menambahkan, Seharusnya dalam proses pembelajaran tersebut, si guru mengawasi para siswanya ketika sedang mengerjakan tugas di kelas, bukan si guru malah asyik menonton film porno dengan laptopnya di meja guru. Kompetensi pendagogik dan kompetensi Kepribadian si guru patut di pertanyakan.

KPAI juga mengingatkan bahwa angka anak-anak yang mengakses pornografi melalui internet cukup tinggi, merujuk hasil survei yang dilakukan Kementrian PPPA dengan Katapedia (rilis 2016), paparan pornografi mencapai 63.066 melalui Google, diikuti Instagram, media online dan berbagai situs lainnya. Ini belum dampak buku bacaan seperti komik, buku cerita yang ada unsur pornografinya.

Survei lainnya dari Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan ada 65,34 persen anak usia sembilan hingga 19 tahun yang menggunakan gawai.KPAI sepanjang tahun 2018 juga menerima pengaduan kasus pornografi anak sebanyak 104 kasus.

Saat ini bahaya kecanduan pornografi terhadap anak sudah memasuki tahap yang sangat meresahkan, karena berpotensi menganggu tumbuhkembang anak, merusak kesehatan mental dan otak anak yang dapat menyebabkan perubahan kepribadian, gangguan emosi, dan menimbulkan sikap agresif yang memicu anak melakukan tindak pidana seperti pemerkosaan.

Hal ini dicontohkan oleh Retno Lestari salah satunya sebagaimana terjadi di Pringsewu (Lampung Timur) dimana seorang anak usia 15 tahun memperkosa puluhan kali kakak kandungnya yang disabilitas karena kecanduan pornografi dari handphonenya.

“Selain itu juga ada juga kasus remaja berinisial AZ (17) yang memperkosa siswi Sekolah Dasar HNF (10), perbuatan itu dilatarbelakangi oleh kebiasaan pelaku yang kerap menonton video porno.” Pungkas Retno Lestari.

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan