banner 728x90

Terancam Putus Sekolah. Anak Korban Bencana Selat Sunda Tak Mampu Bayar Sekolah

Mearindo. Sudah jatuh tertimpa tangga. Setidaknya peribahasa itulah yang dirasakan Masripah, korban tsunami Selat Sunda beberapa waktu lalu. Betapa tidak, baru saja bisa bernapas lega lepas dari bencana, masih harus menanggung beban pendidikan anaknya.

Ia mengeluhkan mahalnya bayar sekolah di SMK IKPI Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten. Warga Desa Teluk itu harus merogoh uang senilai Rp 2,5 juta rupiah untuk membayar ujian nasional (UN). Padahal, dia sekeluarga baru saja menjadi korban tsunami Selat Sunda.

“Tadinya disuruh bayar Rp 2,7 juta. Terus dikorting (dikurangi) Rp 200 ribu, jadinya Rp 2,5 juta. Katanya untuk bayar ujian (Ujian Nasional),” kata Masripah, sembari berlinang air mata.

Saat dikonfirmasi, Masripah mengusap air matanya menggunakan kerudung hijau yang dikenakannya. Dia pun bercerita perahu yang digunakan suaminya rusak terhantam tsunami.

“Perahu juga rusak. Motornya (mesin perahu) enggak bisa dipakai lagi,” tuturnya sembari terseguk.

Sementara itu, Sifaul Anam Ketua Ormas Orang Indonseia Bersatu menyayangkan kebijakan pemerintah yang tetap memperlakukan korban bencana alam pada posisi yang sama dengan warga masyarakat yang tidak mengalami musibah bencana.

Anam menagaskan seharusnya Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan bersinergi dengan BNPB untuk melakukan asesmen data anak didik korban bencana alam untuk mendapatkan kompensasi dari negara.

“Bencana alam itu bukan seperti musibah orang meninggal atau kecelakaan seperti biasanya. Sehingga penangananya pun dibentuk Badan setingkat departemen, yakni Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang bersinergi dengan stekholder lain baik sosial, kesehatan, maupun kementrian perumahan, Maka Negara harusnya menanggung biaya pendidikan anak korban bencana alam,” tegas Anam

Berikut data detail dampak bencana tsunami diperairan Selat Sunda yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu:

Pandeglang
– 290 Orang meninggal
– 1.143 Orang luka-luka
– 77 Orang Hilang
14.395 Orang mengungsi

– 443 Unit rumah rusak
– 69 Hotel rusak
– 350 Perahu dan kapal rusak
– 24 Kendaraan roda 4 rusak
– 41 Kendaraan roda 2 rusak

Serang
– 29 Orang meninggal
– 62 Luka-luka
– 68 Orang Hilang
– 83 Orang mengungsi

– 40 Unit rumah rusak

Pesawaran
– 1 Orang meninggal
– 1 Orang luka-luka
– 231 Orang mengungsi

Kerusakan:
– 53 Rumah rusak berat
– 82 Rumah rusak ringan
– 14 Perahu rusak

Lampung Selatan
– 108 Orang meninggal
– 279 Orang luka-luka
– 9 Orang hilang
– 1.373 Orang mengungsi

– 302 Rumah rusak berat
– 200 Unit bangunan terdampak

Tanggamus
– 1 Orang meninggal

– 4 Rumah rusak
– 4 Penginapan rusak
– 70 Perahu rusak
– 1 Dermaga rusak
– 1 Shelter rusak

Masa Tanggap Darurat:
1. Pandeglang: 14 hari
(22/12/2018 – 04/01/2019)
2. Lampung Selatan: 7 hari (23/12/2018 – 29/12/2018

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan