banner 728x90

31 Nyawa Melayang Karena Lubang Tambang. Presiden Jokowi Harus Bertindak!

31 Nyawa Melayang Karena Lubang Tambang. Presiden Jokowi Harus Bertindak

Jatam dan Walhi Kalimatan Timur menyampaikan kritik surat terbuka untuk Presiden Joko Widodo alias Jokowi, merujuk pada kejadian anak meninggal di lubang tambang kini sudah menelan 31 jiwa di Kalimantan Timur. Presiden Jokowi harus turun tangan, tidak cukup hanya mengasistensi kepada Pemerintah Daerah. Sebab Gubernur, Bupati dan Wali Kota di Kaltim belum menganggap kasus tewasnya anak-anak kami di lubang tambang bukan persoalan penting.

“Karena upaya pencegahan, agar kejadian serupa tidak terulang hingga hari ini tidak terjadi. Langkah luar biasa sudah selayaknya presiden lakukan,” kata Dinamisator Jatam Kaltim, Pradarma Rupang.

Persoalan banyaknya nyawa yang meninggal di lubang tambang tidak cukup hanya pada pendekatan pada umumnya. Karena pola kejahatannya sudah sedemikian akut. Hampir semua pejabat dan aparat hukum seakan takluk jika berhadapan dengan perusahaan tambang yang beroperasi di Kaltim.

“Dengan kewenangan yang presiden miliki, sudah sepatutnya untuk secara langsung memastikan agenda keselamatan rakyat Kaltim dari ancaman lubang tambang. Kepastian penegakan hukum harus benar-benar dilaksanakan,” kata Rupang.

Jatam Kaltim dan Walhi Kaltim mengecam respon Gubernur Kaltim yang seakan-akan pasrah dan tak berbuat apa-apa atas kasus ini. Hal tersebut terlihat dari pernyataan Gubernur Kaltim pada 25 Oktober 2018 lalu, saat korban ke-30 di bekas lubang tambang terjadi. Gubernur seperti tak memiliki empati dan upaya untuk memberikan perlindungan kepada warga Kaltim.

“Kami mendesak Gubernur Kaltim bertindak keras kepada pelaku tambang yang melakukan pembiaran terhadap lubang-lubang tambang,” kata Rupang.

Rupang juga menambahkan “bahwa dengan adanya kejadian terbaru ini adalah kali keduanya lubang tambang PT.BBE menelan korban. Dan kami menuntut agar IUP PT.BBE dicabut. Karena telah melakukan pembiaran dan tak mau membenahi sistem keamanan dan keselamatan sesuai yg di mandatkan dgn UU No.4 Tahun 2009 tentang Minerba dan UU No.32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup”.

Mengapa pencabutan harus diberikan? Langkah tersebut bukti ketegasan pemerintah untuk memberi efek jera, agar kejadian serupa tak terulang kembali.

“Sejumlah perusahaan yang masih harus mempertanggungjawabkan persoalan serupa, kami juga mendesak agar aktifitas operasinya dihentikan,” kata Direktur Eksekutif Daerah Walhi Kaltim, Fathur Roziqin Fen.

Jatam Kaltim dan Walhi Kaltim juga mempertanyakan sikap POLDA KALTIM. Kapan sejumlah kasus-kasus ini segera di limpahkan ke pengadilan. Publik menunggu upaya serius aparat kepolisian Kaltim untuk memastikan penegakan hukum dari kasus ini. Kita duga kuat ada pihak-pihak tertentu yang ingin kasus ini di petieskan dan tak berlanjut ke pengadilan.

“Untuk itu kami mempertanyakan profesionalisme kepolisian Kaltim dalam memastikan penegakkan hukum atas tewasnya 31 anak di lubang tambang. Kasus yang ditelantarkan harus betul-betul dilaksanakan,” kata Iqin.

Kronologis :
Kejadian hari Minggu tgl 4 Nov 2018, jam 14.30 Wita di Lokasi Konsesi PT.BBE. di Desa Bukit Raya, Kec.Tenggarong Seberang.

Saat itu almarhum (Ari Wahyu Utomo) sedang bermain bersama 8 anak lainnya. Selepas joging memasuki kawasan sekitar tambang. Almarhum berenang di lubang tambang tersebut tanpa ada peringatan dan penjagaan dari pihak tambang. Tampak tidak ada Papan Pengumuman, pagar pembatas dan pos jaga security.

Jarak lubang tambang dengan rumah kurang dari 400 M. Proses evakuasi kurang lebih 30 menit sejak korban tenggelam.
Peristiwa ini menambah catatan jumlah korban yang ada di Kaltim meenjadi 31 atau korban yang ke 11 terjadi di Kab.Kutai Kartanegara terhitung sejak tahun 2011 – 2018.

Sepertinya pemerintah tidak pernah belajar dan menganggap penting persoalan ini. Padahal kejadian serupa terjadi sebelumnya dan itu tidak lama berselang. Korban ke 30 yang merengut nyawa Alif Alfaroci terjadi pada tanggal 21 Oktober 2018.
Luas kolam 20 x 30 Meter dengan kedalaman pinggir Lubang Tambang 3 meter.

Status Perusahaan masih aktif menambang. PT.BBE memiliki 2 kosensi dengan luas konsesi 3.081 Ha dan 497,30 Ha.

Pada tanggal 23 Maret 2016 juga telah terjadi perisitwa tenggelam di konsesi PT.BBE dan korban 2 anak-anak sekaligus, nama korban Noval Fajar Slamat (15 Thn) dan Diky Aditya (15 Thn).

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan