banner 728x90

Gerakan 1000 Sarung Untuk Korban Bencana Lombok Diluncurkan Relawan MRU & TIDAR – ERMe Magetan

Gerakan 1000 Sarung Untuk Korban Bencana Lombok Diluncurkan Relawan Magetan

Magetan – Jawa Timur
Mearindo.com – Dalam proses pemulihan pasca terjadinya gempabumi menerjang kawasan Nusa Tenggara Barat pada akhir Agustus dan pekan pertama bulan September 2018 lalu, Magetan kembali menggalang bantuan kemanusiaan dengan GERAKAN 1000 SARUNG UNTUK KORBAN BENCANA LOMBOK.

Gerakan 1000 Sarung Korban Bencana Lombok tersebut menurut PALIH SETIADI, Selaku aktifis MRU (Magetan Rescue unit) dan Relawan Kemanusiaan TIDAR ERMe mengatakan bahwa gerakan kemanusiaan tersebut menyesuaikan kebutuhan yang menjadi kekurangan para korban bencana alam di Lombok berdasarkan serapan informasi relawan yang sampai tanggal ini masih berda di pos dan rumah pengungsian warga.

“Banyak relasi relawan yang menginformasikan korban membutuhkan alat ibadah, oleh sebab itu Magetan menyambur dengan gerakan pengumpulan sarung, mukena, al Qur’an baik baru maupun yang bekas namun masih bagus”, ujar Palih

Sedangkan KARJITO Koordinator TIDAR – ER Me (Tim Darurat – Emergency Response Mearindo) memberikan keterangan bahwa pihaknya membuka Posko Bantuan Kemanusiaan Kebencanaan Dengan mengumpulkan bantuan diberbagai tempat yang tersebar di wilayah Kabupaten Magetan. KARJITO juga membuat program SIAP AMBIL Barang Bantuan ketempat tempat masyarakat yang hendak meringankan korban bencana dengan catatan TIDAK MENYALURKAN BANTUAN BERUPA UANG melalui WA Centre 081 667 4005.

“Relawan Tidar ERMe ini bersifat kontinue tidak semata hanya saat ada kejadian bencana. Sebab kami relawan juga aktif dikegiatan menyalurkan bantuan santunan untuk kondisi warga kita yang dalam taraf kritis baik kesehatan, ekonomi maupun sosial untuk segera mendapatkan perhatian,” terang KARJITO

KARJITO Menambahkan, Pos Komando TIDAR ERMe bertempat menyebar yakni di setiap rumah anggota relawan yang secara sukarela dan ikhlas dijadikan Posko bersama, baik di wilayah Kawedanan, Takeran, Magetan, Panekan, Maospati, Parang, Nguntoronadi, Lembeyan, Barat, Karas dan wilayah kecamatan lain di Kabupaten Magetan.

“Sebelumnya kami juga sudah menyalurkan bantuan yang kami centralkan di Posko Malang Maospati dan bersinergi dengan Koramil Maospati untuk penyaluran dan pengiriman relawan ikut BPBD Kab.Magetan yang telah diberangkatkan ke Lombok menggunakan Pesawat atas dukungan fasilitas dari TNI AU LANUD ISWAHYUDI beberapa waktu lalu, ” pungkas KARJITO.

Sementara itu diberbagai wilayah yang terdampak gempabumi lombok yang berada di Lombok Dan Mataram Nusa Tenggara Barat bergotong royong dibantu relawan kemanusiaan mendirikan Masjid, Musholla, Kelas Darurat di luar sekolah. Kelas Darurat itu dibuat dari rangkaian bambu dan menggunakan atap terpal.

Kelas darurat berukuran 10 meter persegi itu rencananya dibuat diberbagai tempat dimana akibat bencana gempabumi lombok telah mengakibatkan Kerusakan Sekolahan sebanyak 671 unit dengan rincian: 124 PAUD, 341 SD, 6 SLB, 95 SMP, 110 SMA/SMK.

“Untuk tetap menyelamatkan pendidikan anak anak kita yang tertimpa bencana gempa, pembuatan kelas darurat sederhana ini setidaknya bisa membantu proses belajar mengajarnya, mengingat bangunan sekolah yang rusak tidak bisa dipakai, dan yang retak rentan roboh”, kata Kholil salah satu relawan Kemunisaan yang mendirikan Posko Relawan dilokasi setempat.

Kholil menambahkan, “sampai saat ini kami masih sangat membutuhkan terpal, juga alat ibadah dan tentunya berbagai wilayah pengungsian juga demikian. Sebab para warga yang hendak mendirikan rumah teduh darurat untuk keluarganya pun saat ini yang aman menggunakan Terpal,” pungkas Kholil

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dampak gempa telah menyebabkan 555 orang meninggal. Korban meninggal tersebar di Kab. Lombok Utara 466 orang, Lombok Barat 40 orang, Lombok Timur 31 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 9 orang, Sumbawa Besar 5 orang, dan Sumbawa Barat 2 orang.

Sementara sampai tanggal 24 Agustus 2018, data yang berhasil dihimpun oleh BNPB menginformasikan terdapat 390.529 orang masih mengungsi akibat gempa Lombok. Pengungsi tersebar di Kabupaten Lombok Utara 134.235 orang, Lombok Barat 116.453 orang, Lombok Timur 104.060 orang, Lombok Tengah 13.887 orang, dan Kota Mataram 18.894 orang. Pengungsi masih memerlukan bantuan logistik.

Kerusakan Rumah
71.962 unit rumah rusak dengan rincian:
32.016 rusak berat,
3.173 rusak sedang,
36.773 rusak ringan.

Ditambah kerusakan akibat gempa susulan :
97 unit rusak berat
35 unit rusak ringan

Kerusakan Sekolahan
671 unit fasilitas pendidikan rusak dengan rincian:
124 PAUD
341 SD + 6 SLB
95 SMP,
55 SMA + 50 SMK

Kerusakan Sarana Kesehatan
52 unit dengan rincian1
1 Rumah Sakit
11 puskesmas
35 pustu
4 polindes,
1 Gedung farmasi)

Kerusakan Tempat Ibadah
128 unit fasilitas peribadatan dengan rincian :
115 masjid
10 pura,
3 pelinggih

20 unit perkantoran, 6 unit jembatan, dan jalan-jalan rusak dan ambles akibat gempa. Sampai saat ini pengungsi masih memerlukan bantuan mengingat belum semua distribusi bantuan lancer dan merata. Selain itu, diperkirakan mereka masih cukup lama akan berada di pengungsian sambil menunggu perbaikan rumah.

Sutopo Purwo Nugroho,
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB melalui media menyampaikan bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan gempa sangat besar. Tim dari Kedeputian Rehabiitasi dan Rekontruksi BNPB masih melakukan hitung cepat dampak gempa.

“Dengan menggunakan basis data per 13/8/2018, kerusakan dan kerugian akibat gempa di NTB mencapai 7,45 trilyun rupiah. Kerusakan dan kerugian ini meliputi sektor permukiman 6,02 trilyun rupiah, sektor infrastruktur 9,1 milyar rupiah, sektor ekonomi produktif 570,55 milyar rupiah, sektor sosial 779,82 milyar rupiah, dan  lintas sektor 72,7 milyar rupiah. Sektor permukiman adalah penyumbang terbesar dari kerusakan dan kerugian akibat bencana yaitu mencapai 81 persen”, urai Sutopo (Purnomo)

Dokumen Peduli Gempa NTB

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan

two × two =