banner 728x90

GENEWA WADUK Motifasi Gerakan 1000 Sarung Korban Bencana Alam

Penyerahan simbolis bantuan alat ibadah Kartar GENEWA WADUK dalam mensukseskan Gerakan 1000 Sarung Korban Bencana Alam, oleh Kades Waduk Henik Kusmaryati kepada relawan TIDAR ER-Me – BAMPRAM – MRU. ( 29/09/2018)

Magetan, Jawa Timur
Mearindo.com – Sebuah wadah perkumpulan pemuda dan remaja Desa Waduk, Kec.Takeran, Kab.Magetan yang menamai diri GENEWA turut andil dalam mensukseskan Gerakan 1000 Sarung Untuk Korban Bencana Alam. Puluhan anggota GENEWA menggelar kegiatan penggalangan bantuan alat ibadah yang berasal dari warga sekitar dan disalurkan melalui Posko Relawan Kemanusiaan Dan Kebencanaan Alam pada Sabtu, 29 September 2018 bertempat di Posko GEGEWA Waduk. (30/09/2018)

Kegiatan tersebut menurut PURNOMO salah satu anggota GENEWA mengatakan bahwa mereka merasa terpanggil dan turut merasakan beban penderitaan para korban bencana alam baik yang terjadi di Makasar dan Lombok pada akhir Agustus & awal Septembee 2018 lalu, serta bencana alam gempabumi disertai tsunami yang terjadi di Palu Nusa Tenggara pada 28 September 2018.

“Bencana yang akhir – akhir ini melanda Indonesia sangatlah penting untuk kita semua elemen masyarakat agar saling membantu meringankan beban penderitaan dengan berbuat semaksimalnya demi meringankan beban mereka” kata PURNOMO.

Lihat Vidio Lenhkap GENEWA Waduk Takeran

Dalam kesempatan penyerahan bantuan berupa alat ibadah oleh GENEWA melalui relawan Posko Relawan Kemanusiaan Dan Kebencanaan TIDAR – ERMe (Tim Darurat – Emergency Response), BAMPRAM (Barisan Masyarakat Peduli Rakyat Miskin) dan MRU (Magetan Resceu Unit) hadir pula Kepala Desa Waduk HEHIK KISMARYATI, berserta tokoh masyarakat dan pemuda setempat.

HENIK. KUSMARYATI dihadapan perkumpulan GENEWA yang berada diwilayah RT VI setempat memberikan apresiasi atas kegiatan kemanusiaan yang saat ini sedang dijalankan yakni keterlibatan dalam mengambil peran kemanusiaan untuk peduli para korban bencana alam diberbagai wilayah Indonesia.

“Ini merupakan bentuk aktifitas pemuda maupun remaja yang perlu sangat kita dukung dan semoga kegiatan seperti ini tidak berhenti hanya pada saat terjadi kebencanaan, melainkan terus memupuk rasa sosial kemanusiaan untuk warga sekitarnya yang mengalami kesulitan baik sosial, ekonomi, kesehatan maupun krisis lainya”, harap Kades Waduk Takeran Magetan.

Selain itu Ketua Perkumpulan Kartar GENEWA juga memberikan keterangan bahwa anggotanya sampai saat ini yang aktif sekitar 45 dan kegiatan pertemuan rutin juga masih terjalin hingga program Gerakan 1000 Sarung Magetan untuk para korban bencana alam ini dilaksanakan.

Gerakan 1000 Sarung Untuk Korban Bencana Lombok Diluncurkan Relawan Magetan

Dalam proses pemulihan pasca terjadinya gempabumi menerjang kawasan Nusa Tenggara Barat pada akhir Agustus dan pekan pertama bulan September 2018 lalu, Magetan kembali menggalang bantuan kemanusiaan dengan GERAKAN 1000 SARUNG UNTUK KORBAN BENCANA ALAM.

Gerakan 1000 Sarung Korban Bencana Alam tersebut menurut PALIH SETIADI, Selaku aktifis MRU (Magetan Rescue unit) dan Relawan Kemanusiaan TIDAR ER mengatakan bahwa gerakan kemanusiaan tersebut menyesuaikan kebutuhan yang menjadi kekurangan para korban bencana alam di Lombok berdasarkan serapan informasi relawan yang sampai tanggal ini masih berada di pos dan rumah pengungsian warga. Selain itu terjadinya bancana Gempabumi disertai tsunami yang terjadi di PALU juga menjadi bagian peran yang harua diperhatikan.

“Banyak relasi relawan yang menginformasikan korban membutuhkan alat ibadah, oleh sebab itu Magetan menyambur dengan gerakan pengumpulan sarung, mukena, al Qur’an baik baru maupun yang bekas namun masih bagus”, ujar Palih

Sedangkan KARJITO Koordinator TIDAR – ER Me (Tim Darurat – Emergency Response Mearindo) memberikan keterangan bahwa pihaknya membuka Posko Bantuan Kemanusiaan Kebencanaan Dengan mengumpulkan bantuan diberbagai tempat yang tersebar di wilayah Kabupaten Magetan. KARJITO juga membuat program SIAP AMBIL Barang Bantuan ketempat tempat masyarakat yang hendak meringankan korban bencana dengan catatan TIDAK MENYALURKAN BANTUAN BERUPA UANG.

“Relawan Tidar ERMe ini bersifat kontinue tidak semata hanya saat ada kejadian bencana. Sebab kami relawan juga aktif dikegiatan menyalurkan bantuan santunan untuk kondisi warga kita yang dalam taraf kritis baik kesehatan, ekonomi maupun sosial untuk segera mendapatkan perhatian,” terang KARJITO

KARJITO Menambahkan, Pos Komando TIDAR ERMe bertempat menyebar yakni di setiap rumah anggota relawan yang secara sukarela dan ikhlas dijadikan Posko bersama, baik di wilayah Kawedanan, Takeran, Magetan, Panekan, Maospati, Parang, Nguntoronadi, Lembeyan, Barat, Karas dan wilayah kecamatan lain di Kabupaten Magetan.

“Sebelumnya kami juga sudah menyalurkan bantuan yang kami centralkan di Posko Malang Maospati dan bersinergi dengan Koramil Maospati untuk penyaluran dan pengiriman relawan ikut BPBD Kab.Magetan yang telah diberangkatkan ke Lombok menggunakan Pesawat atas dukungan fasilitas dari TNI AU LANUD ISWAHYUDI beberapa waktu lalu, ” pungkas KARJITO.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, dampak gempa telah menyebabkan 555 orang meninggal. Korban meninggal tersebar di Kab. Lombok Utara 466 orang, Lombok Barat 40 orang, Lombok Timur 31 orang, Lombok Tengah 2 orang, Kota Mataram 9 orang, Sumbawa Besar 5 orang, dan Sumbawa Barat 2 orang.

Sementara sampai tanggal 24 Agustus 2018, data yang berhasil dihimpun oleh BNPB menginformasikan terdapat 390.529 orang masih mengungsi akibat gempa Lombok. Pengungsi tersebar di Kabupaten Lombok Utara 134.235 orang, Lombok Barat 116.453 orang, Lombok Timur 104.060 orang, Lombok Tengah 13.887 orang, dan Kota Mataram 18.894 orang. Pengungsi masih memerlukan bantuan logistik.

Klik Baca Keluarga PGRI Magetan Sukseskan Gerakan 1000 Sarung Korban Bencana

Kerusakan Rumah
71.962 unit rumah rusak dengan rincian:
32.016 rusak berat,
3.173 rusak sedang,
36.773 rusak ringan.

Ditambah kerusakan akibat gempa susulan :
97 unit rusak berat
35 unit rusak ringan

Kerusakan Sekolahan
671 unit fasilitas pendidikan rusak dengan rincian:
124 PAUD
341 SD + 6 SLB
95 SMP,
55 SMA + 50 SMK

Kerusakan Sarana Kesehatan
52 unit dengan rincian1
1 Rumah Sakit
11 puskesmas
35 pustu
4 polindes,
1 Gedung farmasi)

Kerusakan Tempat Ibadah
128 unit fasilitas peribadatan dengan rincian :
115 masjid
10 pura,
3 pelinggih

20 unit perkantoran, 6 unit jembatan, dan jalan-jalan rusak dan ambles akibat gempa. Sampai saat ini pengungsi masih memerlukan bantuan mengingat belum semua distribusi bantuan lancer dan merata. Selain itu, diperkirakan mereka masih cukup lama akan berada di pengungsian sambil menunggu perbaikan rumah.

Sutopo Purwo Nugroho,
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB melalui media menyampaikan bahwa kerusakan dan kerugian yang diakibatkan gempa sangat besar. Tim dari Kedeputian Rehabiitasi dan Rekontruksi BNPB masih melakukan hitung cepat dampak gempa.

“Dengan menggunakan basis data per 13/8/2018, kerusakan dan kerugian akibat gempa di NTB mencapai 7,45 trilyun rupiah. Kerusakan dan kerugian ini meliputi sektor permukiman 6,02 trilyun rupiah, sektor infrastruktur 9,1 milyar rupiah, sektor ekonomi produktif 570,55 milyar rupiah, sektor sosial 779,82 milyar rupiah, dan  lintas sektor 72,7 milyar rupiah. Sektor permukiman adalah penyumbang terbesar dari kerusakan dan kerugian akibat bencana yaitu mencapai 81 persen”, urai Sutopo (Gesang)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan

five × 4 =