banner 728x90

Kronologi Bom Di Polrestabes Surabaya


Surabaya
Guncangan bom kembali menggegerkan bangsa Indonesia setelah sebelumnya 3 bom meledak pada 3 gereda di Surabaya dan pada hari yang sama bom meledak di rumah susun tidak jauh dari Polsek wilayah hukum Sidoarjo, kini pada Senin, 14 Mei 2018 sekitar pukul 08.50 Wib tepatnya diarea Polrestabes Surabaya, Jawa Timur juga terjadi ledakan akibat bom bunuh diri.

Menurut Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Frans Barung Mangera, ledakan terjadi dekat dengan palang gerbang Mapolrestabes Surabaya.

Frans mengonfirmasi bahwa ledakan yang terjadi di depan Mapolrestabes Surabaya terjadi karena bom kendaraan. Berdasarkan pantauan CCTV yang telah beredar rekamannya, ledakan berasal dari motor yang berada di palang gerbang masuk Mapolrestabes Surabaya.

Dalam kejadian ini ada anggota Polrestabes yang menjadi korban, yakni polisi yang sedang berjaga di depan pintu Mapolresta Surabaya.

Frans menambahkan, bom yang digunakan adalah bom motor. Sebelum ledakan bom di halaman Mapolrestabes Surabaya hari ini, terjadi ledakan bom di 3 gereja pada Minggu (13/5/2018).

Sementara itu Kapolri, Jendral Tito dalam keterangn pers nya memaparkan bahwa dalam kejadian di Polrestabes Surabaya pelaku adalah sama satu keluarga, yang mengendarai sepeda motor juga membawa anak kecil berusia 8 tahun.

Hasil identifikasi sementara, anak tersebut bernama Ais yang diketahui dari celana dalam korban bertuliskan ‘Ais’.

Diketahui 4 orang pelaku tersebut menggunakan sepeda motor secara beriringan dan berboncengan dengan menggunakan sepeda motor Honda Beat L 6629 NN dan Honda Supra L 3559 G.

“Sedangkan mobil Avanza hitam yang terlihat di video CCTV adalah tamu Polrestabes yang datang dalam rangka pelayanan. Identifikasi akan dilakukan secepatnya,” imbuhnya.

Minggu (13/5/2018) pagi, secara susul-menyusul terjadi ledakan bom di tiga gereja, yaitu GKI Diponegoro, Gereja Santa Maria Tak Bercela, dan Gereja Pantekosta. Akibat tiga ledakan ini, 13 orang meninggal, termasuk pelaku dan jemaah gereja, serta puluhan orang lain terluka.

Tiga ledakan bom Surabaya tersebut diketahui dilakukan satu keluarga yang diduga merupakan jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD). Mereka diketahui menggunakan jenis bom yang berbeda dalam aksinya.

“Semua adalah serangan bom bunuh diri. Cuma jenis bomnya berbeda,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Setelah ledakan di Gereja Santa Maria. Bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno pukul 07.15 WIB. Lalu bom meledak di gereja GKI di Jalan Diponegoro pada pukul 07.53 WIB.

Tito menjelaskan, serangan bom di Gereja Pantekosta dilakukan seorang pria yang bernama Dita Upriyanto. Ia menggunakan bom mobil.

“Itu menggunakan bom diletakkan dalam kendaraan setelah itu ditabrak. Ini ledakan yang terbesar dari ketiga ledakan itu,” ujarnya.

Dari tiga lokasi kejadian berikut pembagian aksi pengeboman yang memilukan dengan menyertakan anak kandung yang masih belia menjadi korbanya:,

Sang ayah bernama DIKA SUPRIYANTO mengemudikan mobil Toyota Avanza, menurunkan istrinya PUJI KUSWANTI dan dua putri yakni FADILA SARI (umur 12 tahun) dan PAMELA RIZKITA (umur 9 tahun) di Gereja Katholik Indonesia (GKI) Wonokromo Jalan Diponegoro.

Kemudian sang ibu meledakkan bom yang digendongnya, dan beserta dua putri serta orang-orang yang tak dikenalnya.

Hampir bersamaan, dua anak laki-laki mereka — YUSUF FADIL (umur 18 tahun) dan FIRMAN HALIM (umur 16 tahun) berboncengan menggunakan sepeda motor, memangku bom, bergegas membelok di tikungan perempatan jalan dan meledakkan diri di halaman Gereja Santa Maria Tak Bercela sebagaimana terekam pada CCTV.

DIKA sendiri membawa mobil Toyota Avanza berisikan bom meledakan dirinya di gereja Pantekosta di Jalan Arjuna. (P.Lih/Red)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan

one × 1 =