banner 728x90

Dhalang Poer Bicara, Wayang Kulit Berbahasa Indonesia Bukan Dosa

Wayang Kulit menurut sejarah adalah merupakan seni tradisional Indonesia yang berkembang di Jawa. Konon Wayang berasal dari ‘Ma Hyang’ yang dimaksudkan menuju kepada spititual, dewa atau pencipta.

Wayang Kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi musik gamelan yang dimainkan nayogo dan tembangnya dinyanyikan oleh Pesinden.

Secara umum wayang mengambil cerita dari naskah Mahabarata dan Ramayana, tetapi tak dibatasi hanya dengan pakem (standard) tersebut, ki dalang bisa juga memainkan lakon carangan (gubahan). Beberapa cerita diambil dari cerita sejarah lokal (kearifan lokal).

Bahasa Wayang Kulit yang digunakan adalah kebanyakan menggunakan bahasa Jawa, sebagaimana perkembangan secara pesat adalah dari Jawa. Sedangkan pada perkembanganya, wayang kulit mengalami kemunduran dan hambatan dalam melestarikan keberadaan dan keeksisanya lantaran anak remaja saat ini hampir tidak diajarkan bahasa jawa halus oleh keluarganya. Sehingga hampir nol koma persen generasi remaja ditahun 2018 yang tertarik wayang kulit karena tidak memahami bahasa Jawa yang disampaikan dalam pagelaran.

Nasionalisasi Wayang Kulit, gerakan menjaga kelestarian wayang kulit untuk saat ini saja sangat dirasakan berat, apalagi ketika para pegiat budaya wayanh dituntut untuk menasionalisasikan sebuah kebudayaan kedaerahan menjadi kebudayaan nasional.

Atas dasat pemikiran itulah, Dhalang Poer yang lebih akrab dipanggil Dalang Kudu Misuh atau Dalang Langit Mendung lantaran judul lagu campur sari ciptaanya yang sangat populer itu turut bersikap dalam menghadapi fenomena kesenian budaya yang mengalami degradasi secara besar besaran saat ini.

Dalam pagelaran Wayang Kulit Berbahasa Indonesia yang pertama kali digelar di Kabupaten Magetan tepatnya di Desa Petungrejo, Kecamatan Nguntoronadi pada Sabtu, 24 Februari 2018 bertempat di Kantor Desa Petungrejo, Dhalang Poer menyatakan bahwa saat ini Wayang Kulit dikawatirkan akan kehilangan ruh pesan moral yang disampaikan didalamnya.

Dhalang Poer juga melihat, saat ini pertunjukan seni cenderung lebih dituntut mampu meninggalkan efek pesan negatif yang pada masyarakat. Seperti contoh kebanyakan permintaan masyarakat pada pentas kesenian lebih cenderung mementingkan bentuk fisik (negatif) tidak lebih memilih pada nilai ajaran.

Semisal : “Penyanyi (sinden) tidak usah bagus asalkan raut mukanya cantik” atau juga banyak “Lihat tontonan wayang yang ditanyakan siapa dagelanya, dan penonton buyar saat pentas tentang isi ajaran ceritanya” (24/2/2018)

Pagelaran wayang kulit Berbahasa Indonesia menurut Dhalang Poer merupakan sebuah ujian dan tantangan bagi para pegiat kesenian kebudayaan dalam menjawab problematika tuntutan untuk menumbuh kembangkan wayang Kulit pada generasi muda saat ini dan mendatang.

(Kades Petungrejo Arif Mukhtar Wahyudi beserta perangkat desa saat memimpin Doa Bersama)

 

“Anak muda saat ini jangankan diajak mencintai budaya wayang, wong diajak nonton wayang agar kenal wayang saja mereka pasti kebanyakan menolak dan lebih memilih bermain game online kok, makanya kita berikhtiar tanpa menghilangi syarat rukunya wayang kulit maka kita mencoba menciptakan hal baru agar diterima anak anak sekarang. Nah kalau mereka sudah mau menerima Wayang Kulit maka akan mudah menumbuhkan kecintaanya”. Ucap Dhalang Poer setelah usai Pagelaran Wayang Kulit Berbahasa Indonesia pada acara 98 tahun Desa Petungrejo.

Pagelaran wayang kulit dengan berbahasa Indonesia kali ini bukanlah hal pertama kali di Indonesia, melainkan sebelumnya pernah diadakan hal serupa dibeberapa tempat, seperti Sulawesi Selatan pernah menggelar pentas Wayang Kulit BerBahasa Indonisia. Yakni oleh Pedalangan Indonesi (Pepadi) Makasar pada tahun 2015 dan lain sebagainya. (Gun)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan

eleven − 4 =