banner 728x90

Sekilas Kisah Masjid Tiban Kembang Sore, Panekan, Magetan Jawa Timur

Mearindo Magetan- Melihat bangunannya, sepintas Masjid Kembang Sore atau
Masjid Tiban di Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan tak
ada bedanya dengan masjid modern pada umumnya. Hal ini karena Masjid
Tiban telah berulang kali direnovasi, termasuk penambahan bangunan baru
di bagian depan masjid.

Keaslian bangunan masjid kuno ini baru
bisa dilihat pada bangunan utamanya yang masih dipertahankan. Corak
arsitektur Jawa bisa dilihat dari empat soko guru atau tiang utama di
dalam masjid yang terbuat dari kayu. Karena empat soko guru itulah
masjid ini disebut dengan Masjid Tiban.

Ciri lain dari corak
arsitektur Jawa pada masjid kuno ini terlihat pada bangunan utamanya
yang berbentuk Joglo dengan tiga buah pintu utama. Letaknya yang
berada di wilayah dataran tinggi, yakni di lereng Gunung Lawu, membuat
masjid ini tidak begitu dikenal masyarakat Magetan dan sekitarnya secara
luas. Bagi wisatawan yang ingin berwisata sekaligus menambah
keyakinan, sangat tepat untuk berkunjung ke masjid ini. Mengendarai
sepeda motor ataupun kendaraan pribadi merupakan cara yang paling mudah
untuk menuju ke masjid ini. Diperkirakan, butuh waktu hampir satu jam
dari Kota Magetan untuk mencapai masjid in.

Meski dipercaya oleh
masyarakat setempat sebagai Masjid Tiban atau masjid yang berdiri tanpa
campur tangan manusia, namun dari sisi sejarah, kehadirannya tidak
lepas dari peran seorang ulama yang bernama Nolodipo atau lebih di kenal
dengan Kyai Ageng Kembang Sore. Nolodipo adalah pemimpin prajurit
Kerajaan Mataram yang pada tahun 1628 terlibat perang dengan pasukan
Belanda. Dalam pelarianya di kawasan hutan lereng Gunung Lawu itulah,
Nolodipo menemukan empat tiang yang berdiri kokoh di atas sebuah bukit.
Empat tiang tersebut selanjutnya ia kembangkan menjadi sebuah masjid.

Nama
Kembang Sore tersebut juga dipercaya dari kesaktian Nolodipo yang
menanam kembang atau bunga di kawasan setempat pada pagi hari dan
sorenya langsung berbunga.
“Sehingga, secara turun-temurun, masjid
ini dikenal dengan nama Masjid Tiban atau Masjid Kembang Sore, sebagai
nama samaran Nolodipo dari kejaran pasukan Belanda”,
ujar Takmir Masjid
Tiban, Karno.

Menurut Karno, empat soko guru dalam masjid
merupakan ciri khas dari masjid peninggalan Kerajaan Mataram. Hal lain
yang merupakan ciri khas dari Kerajaan Mataram adalah mimbar tempat
penceramah. Konstruksi mimbar masjid masih dipercaya seperti
bentuk aslinya, yakni kayu yang dilengkapi dengan ukiran motif Kerajaan
Mataram Islam. Sedangkan, kubah masjid sendiri telah mengalami perubahan
dan renovasi.

Hingga kini Masjid Tiban telah dikenal sebagai
salah satu masjid tertua di Kabupaten Magetan, selain Masjid Tegal Rejo
dan Masjid Tamanarum. Masjid Tiban dipercaya memiliki nilai sejarah dan
berperan dalam syiar agama Islam di kawasan lereng Gunung Lawu. Sampai
saat ini juga, Masjid Tiban atau Kembang Sore tetap digunakan sebagai
pusat aktivitas ke-Islaman oleh masyarakat Desa Pacalan, Kecamatan
Plaosan. Saat bulan Ramadhan seperti sekarang, pengunjung dari
luar daerah Magetan ramai mengunjungi masjid dan makam kuno Kiai Ageng
Kembang Sore, untuk berziarah.

“Selama bulan Ramadhan, masjid ini
juga melakukan berbagai kegiatan selain shalat lima waktu, di antaranya
tadarus, buka puasa bersama, dan pengajian”.
terang Karno.

Sedangkan,
makam Kiai Ageng Kembang Sore yang terletak di kompleks kuburan kuno
sebelah barat masjid, sering menjadi tempat ziarah para pendatang dari
berbagai daerah asal.
“Selain melakukan ibadah, saya juga selalu
berziarah ke makam Kiai Kembang Sore yang berada di belakang area
masjid. Para peziarah percaya, selain sakti, semasa hidupnya dulu Kiai
Kembang Sore memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di
wilayah Magetan dan sekitarnya”.
ujar salah satu pengunjung asal
Maospati, Magetan, Suratno.

Bahkan karena syiarnya, banyak tokoh
penting di Magetan yang menjadi muridnya dan ikut mengembangkan agama
Islam di wilayah Magetan. “Di komplek pemakaman tersebut juga
terdapat makam sejumlah Bupati Magetan zaman dulu yang telah menjadi
murid dari Kiai Kembang Sore. Para tokoh ini ikut menyebarkan agama
Islam dan budaya Kerajaan Mataram”.
tambah Takmir Masjid Tiban, Karno.

Kini
usia Masjid Tiban diperkirakan sekitar 200 tahun, namun masjid tersebut
masih kokoh berdiri, sekokoh nilai sejarah yang secara turun-temurun
diceritakan para orang tua kepada generasi mudanya. Baik nilai sejarah
perjuangan kemerdekaan melawan Belanda hingga sejarah penyebaran agama
Islam di wilayah Magetan dan sekitarnya. (lak)

banner 468x60

No Responses

Tinggalkan Balasan